IHSG Menguat 0,16 Persen Saat Bursa Saham Asia Alami Tekanan

IHSG Menguat 0,16 Persen Saat Bursa Saham Asia Alami Tekanan
Ilustrasi Saham Gabungan (IHSG) (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan penguatannya pada perdagangan Rabu (2/9/2026), di kala bursa saham Asia justru mengalami penurunan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data RTI pukul 09.08 WIB, IHSG tercatat mengalami kenaikan 0,16% atau 10,876 poin menuju posisi 6.610,819.

Terdapat 252 saham yang menguat, 234 saham melemah, serta 220 saham bergerak stagnan. Adapun volume perdagangan mencapai 5,6 miliar saham dengan total nilai transaksi mendekati Rp 2 triliun.

Pergerakan IHSG pagi ini ditopang oleh enam indeks sektoral. Tiga sektor dengan penguatan tertinggi mencakup IDX-Techno yang naik 3,27%, IDX-Finance melonjak 0,94%, dan IDX-Health terangkat 0,65%.

Sejumlah saham di indeks LQ45 turut mencatatkan kenaikan pada perdagangan pagi ini. Tiga saham dengan kenaikan tertinggi meliputi PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 2,40% ke level Rp 1.495 per saham, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang menguat 2,25% ke posisi Rp 2.730 per saham, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang melonjak 2,02% ke harga Rp 26.525 per saham.

Di sisi lain, tiga saham LQ45 dengan penurunan terdalam adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang merosot 3,87% ke level Rp 870 per saham, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang melemah 3,45% ke posisi Rp 10.500 per saham, serta PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang terkoreksi 3,24% menjadi Rp 2.690 per saham.

BRI Danareksa Sekuritas memprediksi bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya pada perdagangan Rabu.

Dalam sajian pagi Menu Trading Rabu (2/9/2026), BRI Danareksa Sekuritas menetapkan batas resistance IHSG pada level 6.650.

"Kami memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan resistance di 6.650. Secara teknikal, IHSG berhasil bertahan di atas MA20 di 6.416 dan mempertahankan struktur uptrend," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila IHSG mampu menembus atau breakout level 6.650 dan bertahan di atasnya, momentum kenaikan diperkirakan berpotensi berlanjut menuju kisaran 6.665-6.732.

Sementara itu, pasar saham Asia mengalami tekanan pada awal perdagangan Rabu (2/9/2026). Aksi jual pada pasar obligasi global turut menjalar ke kawasan Asia, dipicu oleh serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang kembali mendongkrak harga minyak mentah.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat terkoreksi 0,8% pada awal perdagangan. Indeks KOSPI Korea Selatan terperosok sekitar 3% saat pembukaan, sedangkan Nikkei 225 Jepang jatuh 2,2%.

Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 bergerak relatif mendatar.

Harga minyak Brent melanjutkan kenaikannya selama dua hari berturut-turut saat perdagangan Asia dibuka. Kontrak berjangka Brent menguat 0,7% menjadi US$ 95,34 per barel.

Sebelumnya, harga minyak Brent sempat berada di posisi tertinggi dalam lima pekan setelah AS melakukan serangan udara ke Iran pada Selasa (1/9).

Analis Westpac mengungkapkan bahwa potensi gangguan lanjutan terhadap pasokan minyak melintasi Selat Hormuz kembali meningkatkan kecemasan terhadap laju inflasi.

Situasi ini memicu gelombang pelepasan saham di berbagai pasar utama sekaligus memberikan beban yang signifikan terhadap pasar obligasi global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index