Gerak Saham BWPT hingga LSIP Menguat Didorong Sentimen Positif CPO

Gerak Saham BWPT hingga LSIP Menguat Didorong Sentimen Positif CPO
Ilustrasi saham sawit (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham-saham perkebunan dan minyak sawit mentah (CPO) kompak menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif dari lonjakan harga CPO di pasar Malaysia serta penguatan harga minyak nabati global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.35 WIB, saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) memimpin penguatan dengan melonjak 13,76 persen ke Rp124 per saham.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menyusul dengan kenaikan 10,22 persen ke Rp1.025 per saham. Sementara itu, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) menguat 5,35 persen ke Rp197 per saham.

Penguatan juga melanda saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang naik 3,59 persen dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang menguat 2,65 persen. Selain itu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) terangkat 2,33 persen serta NSSS bertambah 3,53 persen.

Sentimen positif bagi saham sawit berasal dari penguatan harga CPO di pasar Malaysia. Pada Selasa (1/9/2026), harga minyak sawit mentah naik sekitar 2 persen akibat terdorong kenaikan harga minyak nabati pesaing dan minyak mentah.

Kontrak acuan minyak sawit pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat 1,61 persen ke level 4.973 ringgit Malaysia per ton. Sebelumnya, harga sempat melonjak lebih dari 2 persen.

Penguatan tersebut memperpanjang tren kenaikan selama dua sesi perdagangan berturut-turut.

Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyampaikan bahwa penguatan CPO terjadi setelah harga minyak kedelai di Chicago serta kontrak olein sawit dan minyak kedelai di China bergerak naik selama perdagangan Asia. Kenaikan harga energi turut memperkuat sentimen pasar.

“Pasar juga diuntungkan oleh pelebaran diskon harga minyak sawit terhadap gasoil. Saat ini, pasar tampaknya mengabaikan lemahnya ekspor minyak sawit Malaysia pada Agustus serta belum adanya penurunan produksi yang signifikan,” kata Bagani sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan harga CPO tersebut tetap berlangsung meski data survei kargo memperlihatkan adanya penurunan ekspor dari Malaysia. Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Agustus turun 14,9 persen dibanding bulan sebelumnya.

Di pasar minyak nabati, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melesat 1 persen dan kontrak minyak sawit turut naik 1 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melonjak hingga 2,33 persen.

Kondisi tersebut menjadi pendorong bagi CPO karena minyak sawit bersaing secara langsung dengan minyak nabati lainnya di pasar global.

Di samping itu, lonjakan harga minyak bumi turut memperkokoh prospek CPO. Harga minyak dunia melambung setelah pecahnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

Tingginya harga minyak mentah menjadikan minyak sawit lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel sehingga berpotensi mendongkrak permintaan.

Dari dalam negeri, Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk September sebesar USD1.007,51 per ton sesuai aturan Kementerian Perdagangan.

Pasar saat ini juga mencermati kondisi cuaca di India yang berpotensi menerima curah hujan monsun di bawah rata-rata pada September. Hal ini terjadi setelah curah hujan sepanjang Agustus tercatat 16 persen di bawah normal.

Situasi cuaca tersebut memicu kekhawatiran terhadap hasil panen dan pertumbuhan ekonomi India sebagai kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Asia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index