Defisit NPI Triwulan II-2026 Susut ke US$ 0,9 Miliar, Aliran Modal Asing Mengalir Deras

Selasa, 25 Agustus 2026 | 00:30:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2026 menunjukkan ketahanan yang solid. Defisit NPI menyusut signifikan menjadi US$ 0,9 miliar (sekitar Rp 16,02 triliun dengan kurs Rp 17.800 per dolar AS), dibandingkan defisit US$ 9,1 miliar pada triwulan I-2026. Penopang utamanya adalah surplus transaksi modal dan finansial yang berbalik arah menjadi US$ 12 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$ 4,8 miliar.

Surplus Modal dan Finansial Jadi Penopang Utama Ketahanan Eksternal

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kunci perbaikan NPI berasal dari melonjaknya surplus transaksi modal dan finansial. Surplus ini didorong oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung (FDI) yang mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi domestik, serta arus modal masuk pada investasi portofolio yang meningkat seiring daya tarik imbal hasil instrumen keuangan di dalam negeri.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," ujar Ramdan dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).

Defisit Transaksi Berjalan Melebar: Impor Energi dan Repatriasi Dividen Jadi Biang Kerok

Di balik perbaikan NPI, transaksi berjalan (current account) justru mencatatkan defisit yang lebih dalam. Pada triwulan II-2026, defisit transaksi berjalan mencapai US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), melebar dibandingkan defisit US$ 3,6 miliar (1,0% PDB) pada kuartal sebelumnya.

Bank Indonesia menilai pelebaran defisit ini dipengaruhi sejumlah faktor temporer:

  • Lonjakan impor migas: Tingginya harga minyak dunia mengerek defisit neraca perdagangan sektor migas.
  • Tingginya kebutuhan domestik: Surplus perdagangan nonmigas menurun akibat peningkatan impor bahan baku dan barang modal seiring pesatnya aktivitas produksi nasional.
  • Repatriasi hasil investasi: Defisit neraca pendapatan primer meningkat karena pembayaran dividen dan imbal hasil kepada investor asing.

Cadangan Devisa Kokoh di Level US$ 145,6 Miliar

Dengan membaiknya kinerja NPI, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat kokoh sebesar US$ 145,6 miliar (sekitar Rp 2.591,68 triliun). Angka ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Proyeksi BI: Ekspor Diprediksi Menguat, Ketidakpastian Global Tetap Dipantau

Ke depan, Bank Indonesia optimistis prospek NPI akan terus berada dalam kondisi baik. Pemulihan kinerja ekspor nasional diproyeksikan terakselerasi berkat kenaikan harga komoditas unggulan global serta dampak positif dari penurunan tarif resiprokal perdagangan Amerika Serikat (AS).

"Sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih dinamis," tutup Ramdan.

Terkini

Panduan Lengkap Memilih Pelembap Gel Wajah Terbaik

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:33:01 WIB

Manfaat Skinimalism untuk Kulit Sehat

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:30:01 WIB

Panduan Memilih Skincare yang Tepat Berdasarkan Iklim

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:25:01 WIB