Kepemilikan Saham Asing di Malaysia Turun ke Level Terendah

Kepemilikan Saham Asing di Malaysia Turun ke Level Terendah
Ilustrasi pasar saham malaysia (FOTO : NET)

JAKARTA – Investor asing mencatatkan penurunan kepemilikan di pasar saham Malaysia hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah pada bulan Agustus 2026.

Sejak awal tahun, investor asing terus menjual saham Malaysia dengan jumlah arus keluar bersih melampaui RM5,4 miliar.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, CEO Areca Capital, Danny Wong, menilai tekanan jual dari investor asing masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, walaupun tekanan tersebut sudah mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Wong menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Malaysia memicu investor asing untuk memindahkan dana mereka dari saham negara berkembang.

Di samping itu, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang juga ikut menarik keluar dana dari pasar modal seperti Malaysia.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, CEO Tradeview Capital, Ng Zhu Hann menyatakan bahwa obligasi Jepang saat ini menawarkan imbal hasil bebas risiko berkisar 3 persen.

Direktur Riset BIMB Securities, Mohd Redza Abdul Rahman, menilai penurunan kepemilikan asing merupakan kombinasi dari tekanan makroekonomi global, realokasi portofolio regional, dan dinamika pasar domestik. Menurut penjelasannya, situasi ini tidak menggambarkan adanya pelemahan fundamental Malaysia secara struktural.

Pengalokasian modal ke saham negara berkembang di Asia secara umum mengalami penurunan karena perbedaan arah kebijakan moneter serta imbal hasil aset yang lebih menggiurkan di Amerika Serikat.

Kebijakan Federal Reserve yang memilih menahan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama turut membuat investor mengalihkan dana menuju aset pendapatan tetap berbasis dolar AS dan saham negara maju.

Pada saat bersamaan, para manajer investasi global memindahkan portofolio ke saham teknologi berkapitalisasi besar dan sektor semikonduktor di Asia Utara, khususnya Taiwan dan Korea Selatan, yang terdorong oleh investasi kecerdasan buatan (AI).

"Meskipun Malaysia merupakan pemain kunci dalam sektor (backend) semikonduktor OSAT (outsourced semiconductor assembly and test) dan pembangunan pusat data, indeks acuan saham lokal seperti FBM KLCI masih memiliki bobot yang sangat besar pada sektor jasa keuangan dan utilitas, sehingga menyebabkan dana pasif yang melacak indeks tersebut memberikan bobot lebih rendah (underweight) pada pasar lokal," ujar Redza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Redza menambahkan bahwa dana institusi domestik seperti Employees Provident Fund, Permodalan Nasional Bhd, dan Retirement Fund Inc, bersama investor ritel, terus menopang pasar dengan menyerap aksi jual asing.

"Penyangga likuiditas domestik yang kuat mencegah anjloknya valuasi, namun membiarkan persentase kepemilikan asing menurun secara bertahap," catat Redza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

CGS International (CGSI) Research mengabarkan bahwa kepemilikan asing atas saham Malaysia merosot menjadi 18,1 persen pada bulan Agustus, yang merupakan level terendah sepanjang sejarah. Pada bulan tersebut, investor asing mencatatkan arus keluar bersih sebesar RM2 miliar.

“Hingga akhir Agustus, investor asing mencatatkan posisi jual bersih sebesar RM4,9 miliar sepanjang tahun berjalan, yang mendorong total arus keluar kumulatif sejak awal tahun 2024 menjadi RM31,5 miliar.” sebagaimana dilansir dari berita sumber

Penjualan oleh investor asing terjadi hampir sepanjang bulan Agustus. Dari total 19 hari perdagangan, arus keluar bersih tercatat selama 17 hari.

Nilai penjualan bruto investor asing mengalami kenaikan 25,2 persen secara bulanan menjadi RM21,6 miliar. Sementara itu, pembelian bruto hanya naik 12,1 persen menjadi RM19,7 miliar.

Sebaliknya, investor institusi Malaysia berbalik menjadi pembeli bersih pada bulan Agustus dengan arus masuk mencapai RM1,6 miliar. Investor ritel domestik turut mencatatkan pembelian bersih sebesar RM375 juta.

Meski begitu, besarnya arus dana asing yang masuk ke pasar obligasi Malaysia mengindikasikan bahwa investor global belum sepenuhnya pergi dari negara tersebut. Para investor memilih mengalihkan sebagian dana dari instrumen saham ke aset pendapatan tetap.

Pada bulan Agustus, investor asing mengalirkan US$3,9 miliar ke obligasi pemerintah dan korporasi Malaysia. Data Bank Negara Malaysia mencatat nilai tersebut sebagai arus masuk bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 2016.

Redza memproyeksikan kepemilikan asing pada saham Malaysia akan mulai stabil dan berpeluang membalik naik pada kuartal IV 2026 hingga awal 2027. Faktor pendukung utamanya adalah stabilitas nilai mata uang ringgit serta kondisi makroekonomi yang kondusif.

"Stabilisasi ringgit memberikan landasan yang lebih jelas bagi manajer dana asing untuk merealisasikan keuntungan modal saham tanpa risiko mata uang," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah konsolidasi fiskal dan eksekusi kebijakan melalui National Energy Transition Roadmap serta New Industrial Master Plan diperkirakan turut menopang perekonomian Malaysia. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Malaysia sendiri berada pada kisaran 4,5 persen–5 persen.

Meski demikian, Redza menganggap pertumbuhan ekonomi tersebut perlu tecermin dalam pertumbuhan laba per saham (EPS) perusahaan agar investor asing kembali menambah alokasinya.

"Dana institusi asing mengincar pertumbuhan EPS di kisaran angka tunggal menengah hingga tinggi khususnya pada saham (blue-chip) berkapitalisasi besar (seperti perbankan, utilitas, telekomunikasi, dan konstruksi) sebagai alasan untuk mengalihkan alokasi investasi dari sektor teknologi Asia Utara atau instrumen pendapatan tetap dalam dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi," tambahnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Redza, komitmen investasi asing langsung pada sektor infrastruktur digital dan energi hijau telah mulai memasuki tahap realisasi. Kondisi ini berpotensi mendongkrak valuasi saham di sektor konstruksi, utilitas listrik, real estate investment trust (REIT), dan rantai pasok teknologi.

Rendahnya tingkat kepemilikan asing serta valuasi saham Malaysia yang tergolong menarik juga dapat menjadi pendorong pemulihan minat investor asing.

“Dengan valuasi FBM KLCI yang diperdagangkan mendekati rata-rata historis rasio (forward price-to-earnings) serta menawarkan imbal hasil dividen sekitar 4% atau lebih, rasio risiko imbalan bagi pengalokasi aset asing menjadi semakin menarik. sebagaimana dilansir dari berita sumber

“Begitu sentimen risiko global berubah, realokasi dalam skala moderat sekalipun oleh dana pasar berkembang regional akan menghasilkan peningkatan signifikan dalam partisipasi asing. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index