JAKARTA – PT Bank Mandiri Tbk menetapkan pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp 66 per saham atau bernilai sekitar Rp 6,16 triliun. Namun, harga saham berkarakteristik blue chip tersebut justru mengalami penurunan setelah penetapan pembayaran dividen bernilai jumbo ini.
Pembagian dividen interim ini direalisasikan menjelang HUT ke-28 Bank Mandiri yang jatuh pada 2 Oktober 2026. Masyarakat dapat mencermati jadwal lengkap pembayaran dividen interim emiten berticker BMRI tersebut.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menjelaskan bahwa keputusan pembagian dividen interim didasarkan pada ketetapan Direksi yang telah mengantongi persetujuan Dewan Komisaris pada 3 September 2026.
“Total nilai dividen interim yang akan dibayarkan sebesar Rp 6,16 triliun atau Rp 66 per saham,” tulis Adhika dalam keterbukaan informasi, Senin (7/9) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pelaksanaan pembagian dividen ini mengacu pada data keuangan per 30 Juni 2026. Pada tanggal tersebut, BMRI berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hingga Rp 30,41 triliun.
Di periode yang sama, saldo laba ditahan yang penggunaannya tidak dibatasi mencapai Rp 211,84 triliun. Di samping itu, total ekuitas Bank Mandiri per 30 Juni 2026 terekam sebesar Rp 293,02 triliun.
Rincian jadwal lengkap pembagian dividen interim Bank Mandiri tahun buku 2026 dimulai dengan Cum Dividen Pasar Reguler dan Negosiasi pada 15 September 2026, lalu Ex Dividen pada 16 September 2026. Selanjutnya, Cum Dividen Pasar Tunai serta Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) jatuh pada 17 September 2026 pukul 16.00 WIB, disusul Ex Dividen Pasar Tunai pada 18 September 2026, dan Pembayaran Dividen pada 2 Oktober 2026.
Meskipun pengumuman dividen dilakukan, harga saham BMRI pada perdagangan Senin (7/9) justru melemah 30 poin atau 0,68 persen secara harian ke tingkat Rp 4.390. Penurunan ini memutus tren kenaikan harga saham BMRI yang sebelumnya sempat tumbuh terakumulasi 5,02 persen atau 210 poin dalam kurun 30 hari perdagangan terakhir.
Berkat pembagian ini, akumulasi dividen Bank Mandiri sepanjang tahun kalender 2026 menyentuh angka sekitar Rp 50,63 triliun. Jumlah ini merupakan gabungan dari dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 44,47 triliun serta dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp 6,16 triliun.
Sikap optimistis manajemen atas fundamental bisnis turut disokong oleh kinerja intermediasi perseroan yang senantiasa kokoh. Secara bank only, penyaluran kredit sampai Agustus 2026 tercatat tumbuh 17,6 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menembus Rp 1.592 triliun.
Capaian pertumbuhan kredit tersebut disokong oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 17,6 persen YoY menjadi Rp 1.687 triliun. Pada rentang waktu yang sama, nilai total aset menyentuh Rp 2.358 triliun atau naik 20,7 persen YoY, dan perolehan laba bersih naik 22,3 persen YoY menjadi Rp 37,5 triliun.
Dilihat dari aspek kualitas aset, perseroan sanggup mempertahankan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross di level 1,00 persen. Hasil tersebut membuktikan bahwasanya ekspansi bisnis tetap dilangsungkan secara sehat serta mengedepankan asas kehati-hatian.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini memaparkan bahwa keputusan pembagian dividen interim disokong oleh kinerja keuangan yang solid serta kondisi permodalan dan likuiditas yang memadai.
Kondisi ini memberikan ruang bagi perseroan untuk menyajikan nilai tambah bagi para pemegang saham sembari tetap menjaga daya tumbuh bisnisnya.
“Pembagian dividen interim ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental Bank Mandiri ke depan sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas kepercayaan para pemegang saham, termasuk investor ritel. Keputusan ini kami lakukan secara terukur dengan memastikan fundamental, kecukupan modal, likuiditas, dan rasio keuangan tetap terjaga serta ruang pertumbuhan bisnis tetap memadai,” ujar Novita dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pembagian dividen interim tersebut adalah bagian dari tata kelola permodalan Bank Mandiri yang dijalankan secara prudent dengan memperhitungkan kebutuhan ekspansi bisnis sekaligus kepentingan pemegang saham.