JAKARTA – Aksi jual obligasi global tampak mulai mereda pada perdagangan Rabu (19/8), walaupun imbal hasil surat utang masih berada dekat tingkat tertinggi dalam beberapa dekade. Peningkatan biaya pembiayaan yang dipicu oleh kecemasan atas membengkaknya utang pemerintah kembali memberi tekanan pada pasar saham global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level 5,3371% pada Selasa (18/8), yang merupakan tingkat tertinggi dalam kurun hampir 20 tahun. Sementara itu, pergerakan yield tersebut berada stabil di kisaran 5,28% pada perdagangan Asia.
Yield obligasi pemerintah Jerman untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun turut mencapai tingkat tertinggi sejak 2011 di kawasan Eropa.
Di sisi lain, yield obligasi Prancis tenor 30 tahun tercatat telah melonjak hingga mendekati 50 basis poin sejak akhir Juni.
Kenaikan imbal hasil juga dialami oleh Jepang, di mana yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang tadinya bertahan di kisaran nol kini beranjak mendekati 3%. Peningkatan inflasi serta kekhawatiran investor akan lambatnya antisipasi pembuat kebijakan menjadi pemicu utamanya.
"Para investor tidak lagi percaya bahwa pengeluaran (pemerintah) akan terkendali. Bahkan, mereka memperhitungkan risiko bahwa pengeluaran tersebut tidak akan terkendali," kata Nigel Green, CEO deVere Group sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Prospek inflasi tetap menjadi perhatian utama pasar meskipun tekanan jual obligasi tampak mereda pada perdagangan Asia. Harga minyak Brent bertahan di atas US$90 per barel akibat belum adanya kepastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker.
Pasar saat ini juga menantikan rilis risalah rapat The Fed pada Rabu, setelah bank sentral AS tersebut memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada rapat Juli.
Akan tetapi, Ketua The Fed Kevin Warsh memicu kewaspadaan investor lantaran minim memberikan petunjuk terkait langkah bank sentral merespons tingginya inflasi.
Pada saat bersamaan, Departemen Keuangan AS berniat menawarkan surat utang pemerintah tenor 20 tahun dengan nilai US$16 miliar. Penawaran ini menyita perhatian pasar di tengah melimpahnya pasokan utang serta tingginya tuntutan imbal hasil dari investor.
Tekanan dari pasar obligasi turut merembet ke pasar saham, ditandai dengan penurunan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sebesar 1,7% dan koreksi indeks Nikkei Jepang sebesar 2,6%. Penurunan ini mengekor pelemahan saham-saham teknologi di Wall Street pada sesi sebelumnya.
Pergerakan turun sebesar 0,1% juga terlihat pada kontrak berjangka saham AS dan Eropa.
Saham Unitree Robotics di China yang merupakan produsen robot humanoid terbesar dunia justru melesat 600% pada penawaran perdananya. Debut penawaran saham tersebut mencatatkan permintaan dari investor ritel hingga melampaui 8.000 kali.
Secara umum, saham sektor teknologi dan semikonduktor di Asia masih berada dalam tekanan. Kondisi ini mengikuti pelemahan saham teknologi AS serta laporan pendapatan tahunan Anthropic yang mencapai US$65 miliar pada akhir Juli, di mana angka tersebut lebih rendah dari proyeksi sebagian pelaku pasar.
Sentimen penghindaran risiko menopang pergerakan dolar AS meskipun penguatannya terbilang terbatas. Mata uang euro berada di kisaran US$1,1576, sementara yen tertahan di 159,44 per dolar AS yang semakin mendekati level 160 sebagai titik potensi intervensi pemerintah Jepang.
Dolar Kanada mencatatkan penguatan tipis setelah Presiden AS Donald Trump menunda pengenaan tarif 50% terhadap produk Kanada selama tiga hari. Trump menyampaikan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan.
Para investor kini mengalihkan fokus pada data inflasi Inggris serta laporan keuangan dari Lowe's, Target, dan TJX. Perhatian terhadap data tersebut meningkat setelah pertumbuhan penjualan ritel AS pekan lalu mencatatkan hasil di bawah perkiraan.
Home Depot berhasil membukukan penjualan dan laba kuartal II di atas ekspektasi pada Selasa berkat dorongan permintaan pemeliharaan serta perbaikan rumah. Di sisi lain, data pembangunan rumah baru di AS mengalami penurunan pada Juli akibat lonjakan suku bunga hipotek.
Lonjakan penerbitan surat utang oleh perusahaan teknologi skala besar atau AI hyperscalers makin memperberat tekanan pada pasar obligasi. Alphabet selaku induk usaha Google menjadi salah satu entitas terbaru yang dikabarkan berencana menghimpun dana sekitar A$5 miliar atau US$3,5 miliar melalui obligasi berdenominasi dolar Australia.
"Pada dasarnya, investor marginal di pasar obligasi khususnya obligasi tenor panjang dan obligasi pemerintah mulai menjadi sedikit lebih sensitif terhadap harga di tengah maraknya penerbitan utang," kata Jack Chambers, Senior Rates Strategist ANZ sebagaimana dilansir dari berita sumber.