Edwin Soerjadjaya Beli Hampir Sejuta Saham SRTG Saat Perusahaan Rugi

Rabu, 09 September 2026 | 21:39:53 WIB
Ilustrasi saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Pengusaha nasional Edwin Soeryadjaya kembali memperkuat posisinya di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dengan memborong hampir satu juta lembar saham. Aksi korporasi ini dilakukan setelah perseroan melaporkan kinerja keuangan yang mengalami kerugian pada semester I 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Anggota Dewan Komisaris Saratoga Investama tersebut menambah portofolio investasinya dengan membeli 980.000 lembar saham SRTG pada periode 4 hingga 7 September 2026. Transaksi ini mempertegas komitmen investasinya di perusahaan yang ia pimpin.

Pembelian dilakukan dalam dua tahap, yaitu 600.000 saham seharga Rp1.806 per lembar pada 4 September 2026, serta 380.000 saham seharga Rp1.805 per lembar pada 7 September 2026. Nilai keseluruhan dari aksi akumulasi saham ini diperkirakan mencapai Rp1,76 miliar.

Langkah tersebut mendongkrak kepemilikan saham langsung Edwin Soeryadjaya menjadi 4.870.735.690 lembar atau setara 35,9071% hak suara, meningkat tipis dari posisi sebelumnya di angka 35,8999%. Pasar menyambut baik aksi akumulasi tersebut dengan mencatatkan penguatan harga saham SRTG sebesar 1,39% ke level Rp1.830 per lembar pada 8 September 2026.

Kenaikan harga tersebut memperlihatkan persepsi positif para pelaku pasar yang menilai aksi beli oleh jajaran manajemen puncak sebagai sinyal kuat atas nilai intrinsik perusahaan. Tren positif ini juga melanjutkan pergerakan harga saham sebulan sebelumnya yang berada pada kisaran Rp1.800 per lembar.

Keputusan strategis ini diambil berlandaskan tujuan investasi, di mana Edwin Soeryadjaya memperkirakan prospek fundamental perseroan sangat potensial untuk dikoleksi lebih banyak. Sebagai komisaris, ia memiliki keleluasaan akses informasi untuk menilai harga wajar perusahaan tanpa mengubah garis besar strategi operasional perseroan.

Langkah ini tetap berjalan meski kinerja keuangan Saratoga sepanjang tahun ini dinilai kurang memuaskan. Perseroan mencatatkan rugi neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,83 triliun per semester I 2026, memburuk 165,6% dibanding rugi Rp 1,82 triliun pada semester I 2025.

Meskipun demikian, penghasilan dividen dan bunga tercatat naik 31,51% secara tahunan menjadi Rp 1,69 triliun per Juni 2026. Sementara itu, penghasilan lainnya tercatat mengalami penurunan dari Rp 2,50 miliar per Juni 2025 menjadi Rp 2,12 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Di sisi lain, beban usaha SRTG berada pada angka Rp 123,05 miliar dan beban lainnya Rp 2,06 miliar. Nilai beban bunga berhasil dipangkas signifikan dari Rp 99,23 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp 37,08 miliar pada periode ini.

Adapun kerugian neto selisih kurs membengkak menjadi Rp 5,41 miliar per Juni 2026 dari posisi Rp 565 juta per Juni 2025. Rugi bersih atau rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan tercatat mencapai Rp 3,87 triliun per semester I 2026, berbalik dari raihan laba bersih sebesar Rp 102,01 miliar pada semester I 2025.

Dalam portofolio saham emiten blue chip, SRTG tercatat memiliki kepemilikan di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Sementara untuk emiten berkembang, investasi disebar pada PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPIX), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi menerangkan bahwa pergerakan nilai portofolio perseroan selalu berpatokan pada dinamika serta fluktuasi yang terjadi di pasar modal. SRTG tetap memegang teguh komitmen untuk menjalankan strategi investasi jangka panjang secara konsisten.

Fokus utama perseroan ditujukan pada pemupukan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, efisiensi operasional, hingga penajaman strategi bisnis di tiap entitas portofolio. “Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini