JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia. Pada perdagangan Selasa (8/9/2026), IHSG tercatat naik 1,01% atau 66,77 poin menuju level 6.686,44.
Penguatan IHSG disokong oleh sentimen domestik serta kembalinya aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar. Selain itu, sektor barang baku turut menjadi salah satu penopang utama laju indeks.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda menyampaikan bahwa meredanya kekhawatiran terkait erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan dampak positif bagi pasar.
Kembali beroperasinya bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik dinilai menyokong aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Di sisi lain, saham-saham berbasis komoditas ikut menguat seiring naiknya harga tembaga, minyak, dan batubara.
"Tren jangka pendek masih relatif positif," ujar Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai faktor domestik masih mendominasi pergerakan IHSG.
Salah satunya dipicu oleh optimisme terhadap fundamental makroekonomi nasional seiring kuatnya posisi cadangan devisa periode Agustus 2026.
Untuk perdagangan Rabu (9/9), Nafan memproyeksikan IHSG bergerak pada kisaran support 6.611 dan 6.552, serta resistance di level 6.780 dan 6.876.
Dari faktor eksternal, pelaku pasar memantau arah kebijakan moneter The Fed, data inflasi Amerika Serikat (AS), imbal hasil US Treasury, hingga lonjakan harga minyak yang mendekati US$ 100 per barel akibat ketegangan geopolitik.
Sementara itu, Reza memprediksi IHSG bakal menguji level psikologis 6.700. Apabila mampu ditembus dan terkonfirmasi sebagai support baru, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 6.755.
Menurut Reza, pergerakan IHSG ke depan akan dipengaruhi oleh data penjualan ritel domestik, inflasi AS, harga komoditas, konflik Timur Tengah, serta perkembangan bencana.
Terkait pilihan saham, Reza merekomendasikan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) pada area beli Rp 550–Rp 560 dengan target Rp 570–Rp 585.
Ia juga merekomendasikan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) pada area Rp 1.690–Rp 1.710 dengan target Rp 1.730–Rp 1.760, serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) pada area Rp 570–Rp 590 dengan target Rp 605–Rp 630.