PDB Tumbuh 5,45% tapi Kalah dari Vietnam, BI Sebut Inflasi Terjaga Jadi Pembeda

Jumat, 04 September 2026 | 06:07:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Perbandingan ekonomi Indonesia dengan Vietnam kembali mencuat dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (3/9). Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti tidak menampik fakta bahwa pertumbuhan ekonomi domestik kalah cepat dari negara tetangga tersebut, namun ia menekankan bahwa struktur ekonomi kedua negara tidak bisa disamakan begitu saja.

"Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam, kompleksitas juga masih beda," ujar Destry dalam forum tersebut.

Ekonomi Tumbuh di Bawah Kapasitas: Ruang Akselerasi Masih Terbuka

Alih-alih hanya berpatokan pada angka pertumbuhan, BI justru menekankan pada kualitas fundamental makroekonomi. Destry menyebutkan, laju inflasi domestik yang berada di kisaran 2,8 persen jauh lebih terkendali dibandingkan Vietnam yang tembus di level 4,5-5 persen.

Selain inflasi, ketahanan ekonomi juga ditopang disiplin fiskal pemerintah. Defisit anggaran dijaga ketat di level 2,8 persen pada 2024 dan diproyeksikan sekitar 2,85 persen pada tahun ini. Rasio utang pemerintah pun dinilai sangat terukur.

Kendati fundamental terjaga, otoritas moneter mengakui aktivitas ekonomi dalam negeri masih beroperasi di bawah level potensialnya. Kondisi ini mengindikasikan ada ruang besar bagi Indonesia untuk menggenjot output atau Produk Domestik Bruto (PDB) lebih tinggi dari capaian saat ini.

Bukan soal Kalah Menang, tapi Kolaborasi Lintas Sektor

Pernyataan Destry ini merefleksikan kekhawatiran bahwa mesin pertumbuhan masih bertumpu pada belanja negara. Bank sentral menilai sudah saatnya sektor swasta dan komponen masyarakat lainnya bergerak bersama untuk mendorong ekspansi ekonomi, tidak hanya mengandalkan stimulus dari pemerintah atau state-led.

"Jadi kalau kita bandingkan negara lain, Indonesia itu sebenarnya posisinya tidak jelek. Nah nanti bersama-sama, mari kita bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi kita dan kita enggak bisa bergerak sendiri-sendiri," kata Destry.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter saja tidak cukup. Dibutuhkan dorongan investasi swasta dan hilirisasi industri untuk mengejar ketertinggalan dari Vietnam yang pertumbuhannya ditopang kuat oleh investasi asing di sektor manufaktur dan ekspor.

Bagi pelaku bisnis, pernyataan BI ini menegaskan bahwa arah kebijakan makro akan tetap fokus pada stabilitas, namun pemerintah dan otoritas terkait kemungkinan akan mencari cara baru untuk membuka keran pertumbuhan tanpa mengorbankan disiplin fiskal dan pengendalian inflasi.

Terkini