FINANSIALINSIGHT.COM — Pertumbuhan inflasi yang terus merangkak naik dalam tiga bulan terakhir mulai menguji ketahanan daya beli masyarakat kelas menengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Selasa (1/9), inflasi bulanan Agustus tercatat 0,21% (month to month/mtm). Namun yang menjadi perhatian pasar adalah laju tahunan yang sudah menembus level psikologis 3% tersebut.
Kenaikan harga pangan menjadi pendorong utama. Kelompok volatile food atau harga pangan bergejolak mengalami inflasi tahunan 4,06%, melonjak dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang hanya 2,52%. Komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan beras menjadi penyumbang terbesar inflasi pada kelompok ini.
Inflasi Inti Ikut Tertekan Harga Emas Global
Tidak hanya pangan, inflasi inti juga menunjukkan akselerasi. Tercatat 0,21% mtm pada Agustus, lebih tinggi dari 0,14% pada Juli. Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,92%—melampaui posisi bulan sebelumnya di 2,76%.Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa inflasi inti didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, seiring meningkatnya harga komoditas emas global di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga. Bagi investor, kenaikan harga emas global memang menjadi sinyal tersendiri, namun bagi rumah tangga, efeknya langsung terasa saat membeli perhiasan atau investasi logam mulia.
Sementara itu, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah justru mencatat deflasi 0,33% mtm. Penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo menjadi pemicu utamanya, seiring turunnya harga avtur dan Bahan Bakar Minyak (BBM) global.
Inflasi di Atas Ekspektasi, Respons BI Menanti
Realisasi inflasi tahunan 3,19% ini berada di atas konsensus pasar yang memperkirakan angkanya di kisaran 3,0%—3,1%. Artinya, tekanan harga lebih tinggi dari dugaan para ekonom.Namun, BI menilai kondisi ini masih dalam koridor yang wajar, meski mendekati batas atas sasaran 2,5% plus-minus 1%. Ramdan menegaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter dan sinergi pengendalian inflasi antara bank sentral dan pemerintah pusat maupun daerah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 persen, plus-minus satu persen, pada 2026 dan 2027," kata Ramdan dalam keterangan resmi, Rabu (2/9).
Pangan Sejahtera: Kunci Menjaga Inflasi Tetap Rendah
Pertanyaan besarnya kini: bagaimana BI dan pemerintah menjaga inflasi agar tidak terus menjauh dari titik tengah target? Jawabannya ada pada pengendalian harga pangan di tingkat daerah. BI menyebut penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) menjadi instrumen utama."Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID, serta implementasi GPIPS," tutur Ramdan.
Bagi pelaku bisnis di sektor ritel dan distribusi pangan, langkah ini berarti tantangan logistik dan stabilisasi pasokan akan terus menjadi fokus pemerintah. Fluktuasi harga cabai dan daging ayam yang kerap terjadi setiap musim kemarau atau menjelang hari besar keagamaan akan diantisipasi lebih dini melalui operasi pasar dan penguatan rantai pasok.
Dengan inflasi inti yang masih di bawah 3%, BI dinilai memiliki ruang untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Keputusan Rapat Dewan Gubernur berikutnya pada pertengahan September akan menjadi penentu arah kebijakan selanjutnya, terutama jika tekanan inflasi inti terus berlanjut akibat penguatan harga emas global. Investasi mengandung risiko.