Aksi Jual Saham Teknologi dan Imbal Hasil Naik Bebani Wall Street

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:36:40 WIB
Ilustrasi wall street (FOTO : NET)

NEW YORK – Indeks utama Wall Street mengakhiri sesi perdagangan Selasa (18/8/2026) di zona merah. Penurunan di sektor teknologi dipimpin oleh industri semikonduktor, sementara ketidakpastian di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan imbal hasil obligasi hingga menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir yang memicu kekhawatiran terkait inflasi dan biaya pinjaman.

Indeks S&P 500 terperosok 53,30 poin atau 0,69 persen menuju level 7.691,76, Nasdaq Composite tergerus 355,20 poin atau 1,33 persen ke level 26.289,71, serta Dow Jones Industrial Average merosot 116,38 poin atau 0,22 persen ke posisi 53.343,40.

Sektor teknologi informasi menjadi pemberat utama pergerakan indeks dari 11 sektor utama S&P 500 dengan penurunan persentase terbesar mencapai 1,9 persen.

Tekanan terdalam pada indeks S&P 500 disumbangkan oleh saham-saham industri chip, seperti produsen chip AI terkemuka Nvidia yang terkoreksi 2,3 persen dan produsen chip memori Micron Technology yang anjlok 7 persen setelah sempat melonjak hampir 18 persen pada lima hari perdagangan sebelumnya.

Total volume perdagangan saham di bursa AS mencatatkan angka 14,86 miliar saham, di bawah rata-rata harian 20 hari terakhir sebesar 16,88 miliar saham.

Memudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah mendongkrak harga minyak mentah yang kemudian mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun ke titik tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turut merangkak ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Indeks Semikonduktor Philadelphia SE tertekan hingga 5 persen seiring langkah investor melepas saham-saham yang sebelumnya menguat berkat reli permintaan kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan biaya pinjaman menekan nilai apresiasi yang siap dialokasikan pemodal terhadap potensi pertumbuhan laba perusahaan teknologi.

"Hal ini bermula seperti efek domino. Pembicaraan gagal mencapai kesepakatan. Hal itu menyebabkan harga minyak naik. Kondisi tersebut memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi," ujar Burns McKinney, manajer portofolio di NFJ Investment Group sebagaimana dilansir dari berita sumber.

McKinney menambahkan bahwa "setiap kali imbal hasil obligasi naik, dampaknya cenderung lebih berat terhadap saham-saham teknologi." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan tajam juga melanda saham produsen penyimpanan data Sandisk dan Western Digital yang masing-masing merosot 9 persen dan 7,4 persen. Di sisi lain, ETF Roundhill Memory tergerus 8,8 persen setelah mencatatkan kenaikan selama lima hari beruntun.

"Tidak ada hal yang dapat mematahkan reli momentum sekuat kenaikan suku bunga, dan hari ini kami melihat bukti nyata akan hal tersebut," ujar Tony Welch, Chief Investment Officer di SignatureFD sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Welch menilai bahwa lonjakan imbal hasil (yield) mengindikasikan bahwa arah kebijakan Federal Reserve terlalu longgar jika ditinjau dari prospek inflasi serta pertumbuhan ekonomi.

Para pemodal tampak meninggalkan sektor berisiko dengan pertumbuhan tinggi dan mengalihkan dana ke sektor defensif seperti kesehatan (naik 1,6 persen) dan barang kebutuhan pokok konsumen (naik 1,1 persen).

Indeks volatilitas Wall Street yang menjadi indikator kecemasan pasar terangkat 0,65 poin ke posisi 15,84 yang merupakan level penutupan tertinggi sejak 4 Agustus.

Pelaku pasar kini menantikan rilis laporan keuangan dari emiten ritel lain pada akhir pekan, termasuk Walmart yang kerap dijadikan acuan utama kondisi sektor ritel. Risalah rapat The Fed bulan Juli yang dijadwalkan terbit pada hari Rabu diproyeksikan dapat memberi arahan lanjutan mengenai penilaian bank sentral terhadap kondisi ekonomi terkini.

Laporan kinerja kuartalan Nvidia yang akan datang dipandang oleh para investor sebagai tolok ukur penting berikutnya bagi momentum pasar yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI).

Tags

Terkini