Bursa Asia Melemah akibat Harga Minyak Brent Tembus 100 Dolar AS

Bursa Asia Melemah akibat Harga Minyak Brent Tembus 100 Dolar AS
Ilustrasi bursa saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Investor mengurangi aset berisiko setelah harga minyak Brent bertahan di atas US$ 100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi. Sementara investor juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang turun 1%. Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan masing-masing melemah lebih dari 1%.

Harga minyak Brent berjangka naik tipis menjadi sekitar US$ 101,4 per barel dalam perdagangan awal. Brent sebelumnya menembus level psikologis US$ 100 untuk pertama kalinya sejak Juli 2026.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam gelombang serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah. Konflik yang semakin meluas meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.

“Brent yang menembus level US$ 100 akan dilihat banyak pelaku pasar sebagai peristiwa penting dalam situasi saat ini,” ujar Nick Twidale, Chief Market Strategist ATFX Global sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut dia, imbal hasil obligasi global berpotensi kembali meningkat ketika pasar mulai menyesuaikan diri dengan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kekhawatiran tersebut juga tercermin di pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,8406%, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2023.

Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan program pembelian kembali obligasi jangka panjang senilai US$ 6 miliar. Namun, langkah tersebut mengecewakan sebagian investor yang mengharapkan program buyback dengan nilai lebih besar.

Kombinasi kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil obligasi membuat tekanan terhadap aset berisiko semakin besar.

“Pasar menghadapi kombinasi tekanan pada September, yang secara historis bukan merupakan bulan terbaik bagi pasar saham,” kata Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di OCBC sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan pasar juga meningkat setelah konflik di Timur Tengah meluas. Selain perang Iran dan AS, pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat.

Perkembangan tersebut menambah risiko terhadap pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah. Konflik yang telah berlangsung selama sekitar enam bulan juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor menjelang serangkaian pertemuan bank sentral dalam beberapa hari ke depan.

Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga pada Kamis. Fokus investor akan tertuju pada pernyataan para pejabat ECB untuk melihat kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.

Sementara itu, The Fed dan Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan depan.

Data inflasi produsen (PPI) AS akan dirilis Kamis, disusul data inflasi konsumen (CPI) pada Jumat. Kedua data tersebut dinilai dapat menentukan arah kebijakan The Fed dalam pertemuan 15–16 September 2026.

Pasar futures suku bunga The Fed saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut.

“Pasar obligasi berada di bawah tekanan karena harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Namun, bukan hanya minyak yang perlu kami perhatikan,” kata Prashant Newnaha, Senior Rates Strategist TD Securities sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan, harga komoditas pertanian juga mulai meningkat dan berpotensi mendorong kontribusi harga pangan terhadap inflasi konsumen dalam beberapa bulan mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Setidaknya, kondisi ini membuat inflasi utama tetap tinggi hingga awal 2027,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di pasar valuta asing, pergerakan yen menjadi perhatian investor menjelang keputusan BOJ pekan depan. Yen berada di sekitar 153,63 per dolar AS dan telah menguat sekitar 4% sepanjang September.

Penguatan yen didorong meningkatnya ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat kenaikan suku bunga, aksi investor yang menutup posisi short yen, serta indikasi awal adanya repatriasi modal Jepang.

Analis menilai penguatan yen masih bergantung pada seberapa hawkish komunikasi BOJ setelah keputusan suku bunga.

“Jika BOJ gagal menaikkan suku bunga, ditambah tidak memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai percepatan pengetatan kebijakan pekan depan, yen kemungkinan kembali melemah tajam,” kata Carol Kong, Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kong memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pekan depan dan kembali melakukan kenaikan pada Desember serta April mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index