JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menguji coba penyesuaian batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. Langkah perombakan harga batas bawah emiten di Papan Pemantauan Khusus atau Full Call Auction (FCA) ini dinilai oleh Partner, Founder, sekaligus Chief of Marketing (CMO) PT Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, dapat meningkatkan transparansi perdagangan.
“Kalau memang dibuka ke Rp1, kita pasti akan melihat angkanya. Saya bilang, harus buka ke Rp1. Karena tidak ada permintaan di harga Rp50. Kalau buka Rp1, (Bursa Efek Indonesia) hapus FCA. Bukan karena Rp1, tapi transparan, ada bid-offer, setelahnya kami tidak perlu FCA. Semua transparan,” beber Kartika atau kerap disapa Tjoe Ay di acara forum investasi Fortune Indonesia di Jakarta pada Sabtu (29/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Penyesuaian batas minimum harga saham tersebut berkaitan langsung dengan mekanisme perdagangan pada Papan Pemantauan Khusus. Rencana penghapusan papan FCA dinilai Tjoe Ay bakal memberi dampak positif bagi harga saham yang diperdagangkan karena sistem FCA cenderung memanipulasi aktivitas perdagangan saat nilai bid dan offer tidak wajar.
“Ini akan membuat semuanya berada dalam keuntungan yang kompetitif. Kalau secara FCA, yang punya dana besar, pasang bid sembarangan, langsung dicabut, itu hanya manipulatif,” tutur Tjoe Ay sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa BEI saat ini sedang mempersiapkan simulasi FCA dan melanjutkan diskusi bersama sekuritas Anggota Bursa (AB).
“[Hasil uji coba] secara umum cukup berhasil. Ada sekitar 8 Anggota Bursa yang belum berpartisipasi, itu akan kami tindak lanjut dalam uji coba berikutnya,” ujar Jeffrey kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, pada Jumat (28/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
BEI masih menyelaraskan peraturan pencatatan pada papan pemantauan khusus serta aturan perdagangan harga batas bawah sehingga pelaksanaan detailnya belum bisa dirinci lebih lanjut oleh Jeffrey.
Meskipun penyelarasan kebijakan Auto Rejection Bawah (ARB) dan Auto Rejection Atas (ARA) masih berjalan, beredar kabar mengenai skema pembagian batas atas dan bawah berdasarkan tingkatan harga.
Saham dalam rentang Rp1-Rp10 direncanakan memakai batas ARA dan ARB sebesar Rp1. Pada saham Rp11-Rp200 ditetapkan ARB 15% dan ARA 35%, sedangkan rentang Rp201-Rp5.000 ditetapkan ARB 15% dan ARA 20%.
Data BEI pada akhir perdagangan Jumat lalu mencatat 36 saham berada di bawah harga Rp50 dan masuk dalam papan FCA dengan penutupan bervariasi antara Rp10 hingga Rp46. Saham Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) ditutup pada harga Rp10, sedangkan Atlas Nexus Group Tbk (OLIV) ditutup pada Rp46.
Perdagangan saham OLIV mencatatkan posisi bid di Rp46 dan ask di Rp47 dengan nilai transaksi Rp257,03 juta, volume 5,60 juta lembar, serta frekuensi 244 kali.
Sementara itu, saham BTEK tidak mencatatkan aktivitas bid dan offer, tetapi membukukan nilai transaksi Rp725 juta, volume 72,50 juta lembar, dan frekuensi 802 kali.
Terdapat pula 44 saham yang harganya tepat berada di level Rp50. Hanya 13 dari saham tersebut yang mencatatkan ask di Rp50 pada perdagangan kemarin, sedangkan sisanya merupakan saham yang dibekukan perdagangannya (suspensi) oleh BEI.
Nilai transaksi terbesar di level tersebut dicatatkan oleh PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp760,61 juta dengan volume 15,21 juta lembar dan frekuensi 1.337 kali.
Posisi selanjutnya ditempati oleh Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) yang meraih nilai transaksi Rp192,80 juta, volume 3,85 juta lembar, serta frekuensi 578 kali.
Terakhir, Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) mencatatkan nilai transaksi Rp80,57 juta dengan volume 1,61 juta lembar dan frekuensi perdagangan sebanyak 170 kali.