Harga Emas Berpotensi Capai 5.400 Dolar AS per Troy Ounce Menurut UBS

Harga Emas Berpotensi Capai 5.400 Dolar AS per Troy Ounce Menurut UBS
Ilustrasi Emas (FOTO : NET)

JAKARTA – UBS memprediksi harga emas berpeluang menyentuh angka 5.400 dolar AS per troy ounce dalam kurun waktu 12 bulan mendatang. Langkah dedolarisasi, penurunan nilai dolar AS, serta maraknya aksi beli oleh bank sentral menjadi pendorong utama tren tersebut.

Kekhawatiran publik atas situasi fiskal Amerika Serikat membuat perhatian para investor kembali tertuju pada peralihan jangka panjang dari mata uang dolar AS.

Indeks dolar AS mengalami koreksi sebesar 2,4 persen dalam periode satu bulan terakhir. Koreksi ini diprediksi masih berlanjut akibat tingginya defisit fiskal AS, dinamika kebijakan perdagangan, dan langkah diversifikasi cadangan devisa.

"Emas jelas diuntungkan oleh dedolarisasi, karena para investor memandang logam mulia sebagai penyimpan nilai yang andal dan alternatif bagi mata uang cadangan tradisional," tulis Chief Investment Office UBS dalam catatannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tercatat ada kenaikan harga emas sebesar 15 persen sepanjang bulan Agustus. UBS menilai tren penguatan tersebut masih berpotensi berlanjut apabila tekanan terhadap dolar AS semakin kuat.

Peluang pemangkasan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve diperkirakan bakal menekan imbal hasil riil serta mata uang dolar AS. Kondisi ini secara langsung akan mendongkrak daya tarik emas di mata investor.

Arus investasi pada instrumen emas kini mulai memperlihatkan tren positif. Peningkatan dana masuk terjadi pada ETF emas, berbarengan dengan konsistensi aksi beli dari pihak bank sentral.

People's Bank of China menambahkan cadangan emas milik mereka sebanyak 20 ton pada Juli 2026. Penambahan volume tersebut mencatatkan rekor lonjakan bulanan tertinggi sejak periode Oktober 2023.

Pada paruh pertama tahun 2027, UBS sempat memproyeksikan harga emas mampu menuju level 5.000 dolar AS per troy ounce. Estimasi ini ditopang oleh prediksi penurunan suku bunga riil, melesunya dolar AS, dan kuatnya serapan bank sentral.

Pergerakan harga emas berhasil menembus rentang perdagangan 100 dolar AS dan melampaui titik resistensi 4.250 dolar AS. Faktor penopang utamanya adalah arus masuk ETF serta aksi borong institusi asal China.

Meskipun demikian, terdapat beberapa potensi risiko jangka pendek yang perlu diwaspadai. Faktor penekan emas meliputi kuatnya data ekonomi AS, lonjakan harga minyak penyulut inflasi, hingga ekspektasi arah kebijakan The Fed yang hawkish.

Secara jangka panjang, fondasi utama aset emas dinilai tetap kokoh. Bank sentral diproyeksikan akan terus melakukan aksi beli emas guna memangkas ketergantungan pada aset berdenominasi dolar AS.

Tercatat sebanyak 289 ton emas dibeli oleh bank sentral pada triwulan kedua tahun 2026. Sementara untuk keseluruhan tahun 2026, akumulasi pembelian diprediksi mencapai rentang 750 hingga 1.000 ton.

Meskipun pembelian bank sentral belum tentu mendongkrak harga secara drastis, langkah tersebut ampuh menjaga stabilitas pasar. Selain itu, aksi ini mampu menyeimbangkan penurunan permintaan emas dari industri perhiasan.

Investor diimbau untuk memisahkan antara risiko transaksi jangka pendek dengan prospek investasi emas jangka panjang. Koreksi harga ke level 4.000 dolar AS per troy ounce atau di bawahnya dapat dimanfaatkan sebagai momentum masuk.

UBS sempat merevisi target harga emas pada akhir tahun 2026 menjadi 5.500 dolar AS dari sebelumnya 5.900 dolar AS pada Mei 2026. Tingginya yield US Treasury serta perkasa-nya dolar AS kala itu menjadi penghambat utama penguatan emas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index