FINANSIALINSIGHT.COM — Otoritas setempat melaporkan ratusan wisatawan ikut hilang. Sebanyak 384 turis, termasuk warga negara Inggris, Amerika Serikat, India, dan Malaysia, belum ditemukan pasca-bencana yang terjadi baru-baru ini.
Evakuasi Terkendala Tingginya Muka Air
Tingginya debit air menghambat upaya evakuasi. Helikopter yang diterjunkan tidak dapat mendarat di area terdampak, yakni Syapru Besi dan Timure, dua wilayah di distrik berpenduduk sekitar 50.000 jiwa itu.
"Bisa ada korban jiwa atau kerugian harta benda yang berat. Tapi saya belum bisa memastikannya sekarang," kata Administrator Distrik Rasuwa, Narendra Pariyar.
Pariyar mengimbau warga yang bermukim di bantaran Sungai Bhote Koshi untuk segera mengungsi ke tempat lebih tinggi. Laporan awal menyebutkan sejumlah desa dan lokasi proyek infrastruktur tersapu arus.
Dampak Lintas Batas dan Gangguan Listrik
Di sisi perbatasan China, kantor berita Xinhua melaporkan adanya korban jiwa dan warga hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet. Longsor lumpur menghantam pos lintas batas darat, memutus akses jalan, komunikasi, dan aliran listrik di wilayah Shigatse.
Presiden China Xi Jinping telah memerintahkan upaya pencarian korban secara maksimal. Ia juga meminta penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini untuk mencegah bencana susulan.
Bencana ini juga melumpuhkan pasokan listrik Nepal. Otoritas listrik setempat mencatat kapasitas produksi sekitar 430 megawatt dari pembangkit listrik tenaga air dan surya mengalami kerusakan. Gangguan terjadi pada fasilitas produksi, transmisi, dan distribusi.
Pemicu Diduga Longsoran Gletser
Para ahli iklim dari International Centre for Integrated Mountain Development yang berbasis di Kathmandu menduga banjir ini dipicu oleh longsoran es dan batuan dari gletser. Material longsor itu memblokir aliran Sungai Lhende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, sebelum akhirnya jebol dan melepaskan debit air besar secara tiba-tiba.
"Sungai Lhende Khola banjir dua kali dalam 14 bulan, kali ini dipicu longsoran es-batuan dari gletser di sisi Nepal yang memblokir sungai dan melepaskan lonjakan air mendadak ke hilir," ujar Spesialis Pengurangan Risiko Bencana, Saswata Sanyal.
Aktivis keadilan iklim Nepal, Prayash Adhikari, menyebut banjir ini menghapus "seluruh desa". Gedung, sekolah, jembatan, dan jalan raya dilaporkan luluh lantah. Ia menekankan pentingnya sistem peringatan dini untuk melindungi masyarakat dari bencana serupa.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah telah menggelar rapat darurat. Angkatan Darat Nepal menerjunkan helikopter dan personel penanggulangan bencana ke lokasi. Musim hujan yang berlangsung Juni hingga September memang kerap memicu banjir dan tanah longsor di Asia Selatan, dan para ilmuwan menilai perubahan iklim meningkatkan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem di kawasan tersebut.