JAKARTA – PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), entitas usaha hilirisasi alkes dan produk herbal berbasis riset di bawah naungan Universitas Gadjah Mada (UGM), bersiap melancarkan debutnya di pasar modal.
Digawangi PT Sukadana Prima Sekuritas sebagai penjamin emisi efek, SWAP menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru senilai Rp130-140 per lembar.
SWAP membidik dana segar maksimal Rp45,22 miliar dari aksi initial public offering (IPO) ini.
Namun, dengan harga penawaran yang tergolong rendah ini, SWAP akan diperdagangkan dengan valuasi yang relatif tinggi dibandingkan beberapa perusahan yang bergerak di industri yang sama.
Mengutip prospektus IPO Perseroan, SWAP memiliki price-to-earnings ratio (PER) berdasarkan kinerja laba bersih empat kuartal terakhir hingga Februari 2026 di kisaran 228,17 – 245,72.
Angka ini 20 kali lebih tinggi dari rata-rata industry peers – termasuk saham PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) dan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) – yang diperdagangkan dengan PER (TTM) di level 10,56.
Sementara itu, price-to-book value (PBV) SWAP menyentuh kisaran 8.01 – 8.62 – juga jauh lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 1,36.
Di sisi lain, manajemen SWAP menegaskan bahwa dibandingkan dua industry peers-nya, OMED dan IRRA, Perseroan memiliki kecenderungan fokus usaha untuk mengembangkan hasil riset.
“Perseroan berencana menggunakan dana segar dari Penawaran Umum Perdana saham ini untuk pengembangan usaha. Hal ini mendorong peningkatan laba sehingga diharapkan PER membaik secara signifikan,” tulis manajemen dalam prospektusnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
SWAP telah mencatatkan laba bersih Rp1,42 miliar pada akhir 2025 lalu, meski capaian ini ambles hingga 58,97% dari Rp3,46 miliar pada 2024.
SWAP mencatatkan pelemahan pendapatan yang signifikan hingga 30,25% secara tahunan menjadi Rp7,12 miliar, dari Rp10,21 miliar pada akhir 2024 lalu.
Melandainya kinerja masih terjadi hingga Februari 2026, ketika SWAP mencatatkan kerugian Rp570,59 juta—meski membaik dari kerugian Rp978,70 juta pada akhir Februari 2025 lalu.
Hal ini didorong pendapatan yang bertumbuh 28,16% secara tahunan menjadi Rp588,87 juta pada akhir Februari 2026.
PT Phapros Tbk (PEHA) menjadi salah satu pelanggan utama Perseroan, dengan porsi penjualan mencapai 42,22% pendapatan SWAP per Februari 2026 lalu, diikuti RSUP Fatmawati 30,33%.
SWAP masih sangat bergantung pada unit usaha Hepro Gama untuk menggenjot kinerja pendapatannya – yang menyumbang hingga 91,84% pendapatan Perseroan.
Hepro Gama merupakan unit usaha SWAP yang berfokus pada produksi alkes (alat kesehatan).
Sisa pendapatan SWAP mencatatkan kontribusi dari dua unit usaha lainnya, Gama Herbal Indonesia dan Gamafood, dengan kontribusi masing-masing 5,87% dan 2,29%.
Sebagai catatan, Gama Herbal memproduksi dan mengembangkan obat herbal, sedangkan Gamafood memproduksi pangan dan minuman sehat berbasis riset dan bahan lokal.
Mengacu pada prospektus IPO, penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham SWAP adalah Universitas Gadjah Mada (UGM).
UGM memiliki kepemilikan saham langsung sebesar 2,69%.
Selain itu, UGM juga mencatatkan kepemilikan tidak langsung melalui PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) sebesar 97,16%.
GMUM merupakan perusahaan holding dan investasi milik UGM, dan UGM tercatat sebagai pengendali 98,63% GMUM.
Selain itu, terdapat PT Radio Swara Gadjah Mada, salah satu unit GMUM di bidang radio/siaran, yang menggenggam 0,08%.
Selain itu, Direktur Utama SWAP sekaligus tenaga pengajar UGM Bondan Ardiningtyas juga memiliki 0,07% saham dalam SWAP.