Dua Saham Telko EXCL dan ISAT Menguat, Intip Prospek Kinerjanya

Dua Saham Telko EXCL dan ISAT Menguat, Intip Prospek Kinerjanya
Ilustrasi Saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Dua saham telekomunikasi, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) serta PT Indosat Tbk (ISAT), serentak melaju positif pada Jumat (14/8/2026) pagi guna melanjutkan tren kenaikan sebelumnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.46 WIB, saham EXCL melonjak 5,32 persen menuju Rp2.770 per unit, dengan catatan kenaikan 8,24 persen dalam kurun sepekan.

Sementara itu, saham ISAT menguat 4,86 persen menjadi Rp2.590 per unit, yang menandakan lonjakan kinerja mingguan mencapai 19,35 persen.

Kinerja kuartal II-2026 (2Q26) EXCL tercatat sesuai estimasi dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,3 persen secara kuartalan.

Sektor enterprise menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut, sedangkan perolehan dari segmen data justru menyusut 1,9 persen secara kuartalan (q-q).

ARPU melandai tipis ke angka Rp46,9 ribu akibat yield yang lebih rendah, walaupun lalu lintas data masih tumbuh kokoh 5,2 persen q-q.

Margin EBITDA tercatat naik tipis ke level 45,9 persen, dengan raihan EBITDA 1H26 sebesar Rp10,9 triliun.

Pada sektor jaringan, jangkauan 5G milik EXCL telah menembus 23 persen dengan sumbangan lalu lintas data sebesar 27 persen.

Pihak BRI Danareksa Sekuritas memandang pencapaian ini sebagai pijakan penting dalam monetisasi 5G jangka panjang sekaligus memperkuat posisi EXCL di ranah industri.

Di sisi lain, tahapan integrasi pasramerger sudah mendekati fase akhir.

Proyeksi percepatan depresiasi untuk tahun buku 2026 (FY26F) dipangkas ke kisaran Rp4,5-Rp5 triliun, seiring berhasilnya integrasi pada sekitar 90 persen jaringan.

Sinergi hasil merger pun berjalan sesuai rencana dengan membukukan USD153 juta pada 1H26 dari target awal sebesar USD250-300 juta.

BRI Danareksa menaikkan proyeksi laba bersih FY26F hingga 32 persen yang utamanya didorong oleh penurunan beban depresiasi.

Namun, alokasi capex FY26F dinaikkan dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun demi akuisisi spektrum dan percepatan ekspansi jaringan, sehingga FCF FY26F diperkirakan tergerus hingga negatif Rp3,5 triliun.

BRI Danareksa tetap mempertahankan saran beli dan tactical overweight (OW) 3M, meski target harga disesuaikan turun ke Rp3.600 yang mencerminkan valuasi 5,5x FY26F EV/EBITDA.

Lembaga sekuritas tersebut menilai EXCL kini mulai melangkah dari tahap integrasi merger ke fase monetisasi 5G.

Pengurangan biaya merger, diversifikasi bisnis enterprise, serta dominasi di sektor 5G dipandang sebagai pondasi pemulihan pada FY27F, walaupun tingginya capex masih membebani arus kas jangka pendek.

Sementara itu, ekspansi ISAT ke dalam ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi pendorong baru bagi kinerja perusahaan, tetapi juga menyimpan risiko jika kapasitasnya tidak diserap pasar.

JPMorgan berpendapat bahwa platform infrastruktur AI terbaru Indosat mampu memberikan nilai tambah laba per saham (EPS) hingga dua digit dalam kondisi pasar optimis (bullish).

Namun, kondisi kelebihan pasokan infrastruktur AI serta tekanan tarif berpotensi menurunkan nilai investasi bagi para pemegang saham.

Lewat riset tertanggal 7 Agustus 2026, analis JPMorgan Ranjan Sharma beserta tim konsisten memberikan rekomendasi overweight untuk ISAT dengan target harga Rp3.200 per unit pada Juni 2027.

Rekomendasi tersebut dirilis usai saham ISAT melonjak 14 persen saat pengumuman kemitraan infrastruktur AI pada Jumat (7/8/2026), melampaui kenaikan Jakarta Composite Index (JCI) sebesar 1 persen di hari serupa.

Catatan pergerakan terbaru pada Selasa (11/8) pukul 10.07 WIB memperlihatkan saham ISAT naik 3,81 persen ke Rp2.180 per unit.

Dalam kurun sepekan, saham telekomunikasi ini tumbuh 14,44 persen dan menanjak hingga 19,78 persen dalam sebulan.

Platform bernama Zankore tersebut dikembangkan Indosat bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA guna menyasar infrastruktur AI tingkat regional.

Kapasitas awalnya dipatok sebesar 200 megawatt (MW) pada semester I-2027 menggunakan server NVIDIA GB300 NVL72, dengan target jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW).

Berdasarkan laporan JPMorgan, Ooredoo bakal memegang sekitar 49 persen saham Zankore serta berkomitmen mengucurkan dana USD800 juta demi pengembangan platform.

Di balik peluang besarnya, JPMorgan menggarisbawahi sejumlah ketidakpastian bagi investor, terutama soal pemenuhan dana dan tingkat penggunaan infrastruktur AI.

Sebagai gambaran, Indosat memperkirakan dana belanja modal sekitar USD650 juta diperlukan untuk menggarap infrastruktur komputasi 22 MW berteknologi NVIDIA.

Bila angka tersebut dijadikan acuan, pembangunan fasilitas 200 MW dapat menedot dana investasi berkisar USD5,5 miliar-USD6 miliar.

Kebutuhan modal yang begitu masif menimbulkan pertanyaan mengenai skema pembiayaan Zankore.

JPMorgan mengkalkulasi, jika Indosat perlu menyetor komitmen ekuitas awal sekitar USD1,6 miliar, rasio utang terhadap ekuitas Zankore bakal berada di kisaran 2,4-2,5 kali.

Tuntutan pendanaan ini berpeluang meningkat seiring langkah investasi Indosat pada jaringan serat optik dan 5G.

Perseroan diprediksi harus menambah pinjaman atau menjual piutang kontrak layanan cloud untuk memenuhi kebutuhan dana Zankore.

Di sisi lain, tingkat permintaan pasar masih menjadi pertanyaan terbesar.

JPMorgan menilai pembangunan pusat data dan infrastruktur AI di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand, berlangsung sangat cepat.

Oleh karena itu, belum berdasar alasan kuat mengapa konsumen AI skala besar bakal memilih kapasitas dari Indonesia, terlebih saat harga neocloud domestik Indosat menunjukkan tren naik.

Selain itu, arus investasi infrastruktur AI di dalam negeri terus mengalami lonjakan.

Entitas seperti Firmus dan CoreWeave turut mengumumkan investasi baru, sehingga ancaman kelebihan kapasitas pasar kian nyata.

Dalam proyeksi optimis, JPMorgan memperkirakan Zankore sanggup memberikan kontribusi positif yang lumayan besar pada laba Indosat.

Asumsinya, Zankore mampu mencetak pendapatan per MW yang setara dengan unit neocloud Indosat saat ini, memiliki margin EBITDA serupa, serta mampu memperoleh modal utang USD4 miliar dengan ekuitas USD1,6 miliar.

Dengan porsi kepemilikan Indosat sebesar 15 persen di Zankore, JPMorgan memproyeksikan proyek ini memberi efek positif sekitar 20 persen pada EPS Indosat pada 2027.

Tingkat pengembalian modal (IRR) tanpa leverage diperkirakan menembus di atas 20 persen, sehingga berdampak manis bagi pemegang saham jika target perolehan dan pendapatan tercapai.

Di lain pihak, JPMorgan mewaspadai risiko apabila tingkat penggunaan Zankore tergolong rendah atau terjadi perang harga.

Kondisi merugi tersebut berpotensi menekan balik tingkat pengembalian investasi dan memperberat perolehan laba Indosat.

JPMorgan berargumen, jika sektor infrastruktur AI mampu menghasilkan IRR melebihi 20 persen, arus modal yang masuk ke sektor ini tentu akan semakin deras.

Hal itu berisiko memicu pembangunan kapasitas AI baru secara masif, mengingat proyek-proyek besar sudah mulai bermunculan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dampaknya, Zankore dibayangi risiko kesulitan dalam menjaring permintaan yang cukup atau mempertahankan harga sewa GPU di level saat ini.

Apabila skenario buruk itu terjadi, tingkat pengembalian investasi bisa jatuh di bawah perkiraan dan kontribusinya terhadap laba ISAT menjadi tidak maksimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index