Bursa Asia Menguat Dipimpin Saham Teknologi, Minyak Naik hingga US$97

Senin, 07 September 2026 | 17:35:14 WIB
Ilustrasi saham teknologi menopang bursa Asia (FOTO : NET)

JAKARTA – Reli saham-saham teknologi menopang pergerakan bursa Asia ketika perselisihan AS-Iran mengerek harga minyak.

Saham teknologi di kawasan Asia menguat pada perdagangan Senin (7/9), seiring laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang solid dinilai memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi global.

Kendati demikian, data tersebut sekaligus memperkecil peluang penurunan suku bunga, di saat harga minyak merangkak naik usai AS dan Iran menyerang kapal di wilayah Teluk.

Teheran menyatakan bakal mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam kurun waktu beberapa hari mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan tersebut disampaikan seusai pasukan AS menyerang tiga kapal tanker Iran, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal Angkatan Laut AS sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga minyak Brent naik 0,7 persen ke level US$96,97 per barel, sesudah melonjak hampir 8 persen pada pekan lalu.

Adapun minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8 persen menjadi US$92,24 per barel.

Lonjakan harga minyak menjadi kabar buruk bagi harga diesel yang mencatatkan rekor tertinggi pada pekan lalu.

Diesel sendiri merupakan bahan bakar vital bagi sektor transportasi, pelayaran, pertanian, hingga manufaktur.

Dorongan inflasi ini meningkatkan perhatian pasar terhadap data harga konsumen AS yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Kondisi tersebut juga menjadi salah satu alasan Bank Sentral Eropa (ECB) diproyeksikan menaikkan suku bunga menjadi 2,75 persen pada Kamis.

Pasar berjangka turut memperkirakan peluang 75 persen untuk kenaikan selanjutnya menjadi 3 persen pada Desember.

Potensi sikap hawkish dari ECB pascakenaikan suku bunga diprediksi membuat saham Eropa berada dalam tekanan.

Kontrak berjangka EUROSTOXX 50, DAX, dan FTSE masing-masing tercatat turun 0,1 persen.

Di Wall Street, aktivitas perdagangan diproyeksikan sepi seiring adanya libur nasional di AS.

Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing bergerak sedikit lebih rendah.

Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS (CPI) Agustus pada Jumat.

Konsensus memperkirakan inflasi inti naik 0,2 persen, dengan risiko kenaikan mencapai 0,3 persen.

Saham Teknologi Asia Menguat

Di kawasan Asia, antusiasme terhadap saham teknologi mendorong indeks Nikkei Jepang rebound 2,2 persen, usai terkoreksi dalam persentase serupa pada pekan lalu.

Indeks Korea Selatan pun melesat 3,1 persen.

Sejumlah trader menunjuk proyeksi sangat bullish Goldman Sachs yang memperkirakan indeks Kospi masih berpeluang naik 75 persen menuju level 12.000, walau target tersebut telah menjadi pandangan Goldman dalam jangka waktu cukup lama.

Saham unggulan China naik 0,2 persen, terdorong sentimen positif usai Kementerian Keuangan China akan memimpin suntikan modal gabungan sebesar US$54 miliar ke perusahaan asuransi dan bank milik negara.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turut naik 1,1 persen.

Namun, kenaikan imbal hasil obligasi masih membebani valuasi saham. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,784 persen, mendekati posisi tertinggi sejak akhir 2023.

Data CPI yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mengerek yield semakin mendekati level psikologis 5 persen.

Bagi Federal Reserve, laporan payroll AS yang kuat pekan lalu membuat pasar memperkirakan peluang 58 persen kenaikan suku bunga pada pertemuan 16 September dan 70 persen untuk kenaikan pada Oktober.

Bank Sentral Mulai Bergerak

Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan, memperkirakan inflasi inti AS naik 0,21 persen. Menurutnya, angka tersebut masih tergolong cukup rendah untuk membuat The Fed mempertahankan suku bunga, setidaknya untuk sementara.

Pasar turut memperkirakan peluang 75 persen Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September. Peluang kenaikan berikutnya pada Desember diperkirakan menyentuh 60 persen.

"Kesabaran bank sentral selama guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral kini mulai bergerak," kata Kasman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan, JPMorgan memperkirakan ECB dan BoJ bakal menaikkan suku bunga masing-masing dua kali lagi hingga akhir tahun. Menurutnya, terdapat alasan kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih agresif dibanding proyeksi dasar kenaikan pada Desember sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dolar dan Emas

Di pasar valuta asing, indeks dolar cuma memperoleh dorongan tipis dari laporan ketenagakerjaan AS. Kekhawatiran pada utang AS yang terus membengkak dan ketidakpastian kebijakan menekan daya tarik dolar.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat mencuri perhatian pasar usai memperingatkan akan menghentikan perdagangan internasional dengan negara-negara yang mencatatkan surplus perdagangan terhadap AS apabila The Fed tidak memangkas suku bunga sesuai keinginannya.

Indeks dolar berada di posisi 99,135, tidak jauh dari level terendah baru-baru ini di 98,558.

Euro bertahan di US$1,1610, mendekati titik tertinggi Agustus di US$1,1711.

Sementara itu, dolar melemah tipis ke posisi 156,11 yen.

Yen masih menguji level support utama 155,00 setelah menguat 2,4 persen pada pekan lalu di tengah spekulasi BoJ akan memperketat kebijakan moneternya secara lebih agresif.

Di pasar komoditas, harga emas susut 0,5 persen menjadi US$4.406 per troi ons usai menemukan dukungan di kisaran US$4.282 pada pekan lalu.

Tags

Terkini