IHSG Naik 0,53 Persen Mengikuti Penguatan Mayoritas Bursa Saham Asia

Kamis, 03 September 2026 | 18:31:19 WIB
Ilustrasi pasar saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (3/9/2026) di zona hijau, mengekor tren positif mayoritas bursa saham di Asia.

Berdasarkan data RTI pada pukul 09.14 WIB, IHSG melesat 0,53% atau bertambah 34,913 poin menuju posisi 6.630,689. Catatan perdagangan menunjukkan 338 saham naik, 185 saham turun, dan 189 saham stagnan.

Aktivitas transaksi mencatatkan volume 5,5 miliar saham dengan nilai keseluruhan berkisar Rp 2 triliun.

Penguatan IHSG didorong oleh 10 indeks sektoral. Sektor IDX-Trans memimpin lonjakan sebesar 1,84%, disusul IDX-Energy yang menguat 1,32%, serta IDX-Basic yang naik 1,20%.

Pada jajaran saham LQ45, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 4,04% menuju Rp 2.320 per saham.

Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turut menguat 3,68% ke level Rp 2.820, sedangkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terangkat 3,29% menjadi Rp 11.000.

Di posisi sebaliknya, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan penurunan terjelas di indeks LQ45 sebesar 2,80% ke Rp 695.

Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga melemah 0,68% menjadi Rp 7.325, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 0,37% ke level Rp 6.650.

Pergerakan positif IHSG beriringan dengan pasar saham dan pasar obligasi Asia yang kompak menguat pada Kamis. Para pemodal tengah memantau rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) serta arahan pejabat bank sentral guna membaca sinyal kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bond (JGB) melandai dari titik tertingginya, menyamai penurunan yield US Treasury pada sesi sebelumnya.

Kondisi tersebut berlangsung di tengah persiapan lelang obligasi pemerintah Jepang bertenor superpanjang di Tokyo.

Dari pasar komoditas, harga minyak meliuk turun tipis dari posisi tingginya akibat ketidakpastian potensi serangan militer susulan dalam konflik AS dan Iran.

Perhatian utama pelaku pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls (NFP) yang akan meluncur Jumat (4/9/2026). Rilis data tersebut menjadi petunjuk vital bagi The Fed dalam menentukan arah suku bunga acuannya.

Pasar juga mencermati pidato Gubernur The Fed Christopher Waller. Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams telah memberikan sinyal yang cenderung meredam ekspektasi kenaikan suku bunga bulan ini.

"Jika perang ini dapat diakhiri, hal itu tentu akan menjadi sesuatu yang sangat positif untuk membawa imbal hasil turun secara keseluruhan," kata Gavin Friend, senior markets strategist di NAB, dalam sebuah podcast sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Friend, berakhirnya konflik dapat meredakan tekanan di pasar dan memungkinkan bank sentral kembali fokus pada pertimbangan kebijakan moneter normal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terangkat 0,5%, menyusul pasar saham AS yang ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (2/9/2026).

Pada pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama melandai 0,05% ke level 99,54. Sementara itu, euro menguat tipis 0,02% menjadi US$ 1,1589.

Di saat bersamaan, yen Jepang naik 0,07% menjadi 158,59 per dolar AS, setelah melonjak 0,9% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Yield US Treasury turut menyusut dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, kenaikan biaya pinjaman di sejumlah negara ekonomi utama sempat memicu kekhawatiran terkait pengetatan kebijakan moneter dan pemburukan kondisi fiskal.

Tags

Terkini