JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan saham PT Oxala Energi International Tbk (PIPA) dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) ke dalam radar pengawasan. Hal tersebut disebabkan oleh pergerakan harga saham kedua emiten yang dinilai bergerak secara tidak wajar atau mengalami unusual market activity (UMA).
Berdasarkan data RTI, saham PIPA mengalami lonjakan hingga 61,79% dalam kurun waktu sebulan terakhir. Pada periode yang sama, saham BELI juga mencatatkan kenaikan sebesar 42,06%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa masuknya saham PIPA dan BELI ke dalam radar UMA patut diwaspadai oleh para investor. Hal ini mengingat lonjakan harga kedua saham tersebut terjadi secara sangat agresif dalam rentang waktu yang cukup singkat.
Meskipun status UMA tidak selalu menandakan adanya pelanggaran hukum, kondisi ini menjadi peringatan agar investor lebih teliti membaca keterbukaan informasi, kondisi fundamental, dan potensi aksi korporasi emiten. Pergerakan anomali pada PIPA lebih didorong oleh ekspektasi pasar terhadap ekspansi ke sektor energi serta rencana transformasi bisnisnya.
Di sisi lain, perbaikan kinerja fundamental yang cukup positif sebenarnya terlihat pada BELI. “Lonjakan harga yang sangat cepat juga menunjukkan adanya faktor sentimen dan momentum perdagangan yang kuat sehingga perlu diwaspadai,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Prospek PIPA dinilai masih cenderung spekulatif dengan sentimen positif yang bertumpu pada transformasi menuju sektor energi, rencana aksi korporasi, serta akuisisi aset baru. Walau demikian, realisasi dari rencana tersebut tetap harus dipastikan agar benar-benar memberikan dampak nyata bagi pendapatan dan laba perusahaan.
"Risiko dilusi akibat penambahan modal juga perlu diperhatikan," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, BELI menunjukkan prospek yang lebih menjanjikan secara fundamental berkat pertumbuhan pendapatan yang kuat serta penurunan nilai kerugian secara bertahap. Peningkatan monetisasi melalui take rate, penguatan ekosistem Blibli, tiket.com, dan Ranch Market, serta peluang mencapai profitabilitas menjadi pendorong positif bagi perseroan.
Namun, faktor risiko seperti tingginya biaya operasional, ketatnya persaingan e-commerce, kondisi daya beli masyarakat, dan valuasi yang makin mahal setelah reli harga tetap perlu dihitung. Atas dasar itu, saham BELI dianggap lebih prospektif untuk investasi berbasis fundamental.
“Sedangkan PIPA lebih tepat dipandang sebagai saham berisiko tinggi yang mengandalkan keberhasilan transformasi bisnis,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski telah memaparkan prospek keduanya, Nafan menegaskan belum memberikan rekomendasi beli untuk saham PIPA maupun BELI.