Prospek Penjualan Sukuk Ritel SR025 Tetap Positif tapi Lebih Selektif

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:35:13 WIB
Ilustrasi sukuk ritel (FOTO : NET)

JAKARTA – Daya tarik Sukuk Ritel (SR) seri SR025 dinilai masih tetap terjaga di tengah sengitnya persaingan antar-instrumen investasi saat ini. Kendati demikian, ruang pertumbuhan penjualannya diproyeksikan bakal lebih terbatas imbas dari penawaran kupon yang lebih rendah serta kondisi likuiditas para investor ritel.

Masa penawaran SR025 kepada investor ritel telah resmi dibuka sejak Jumat (21/8/2026). Untuk seri ini, pemerintah menetapkan tingkat kupon tetap sebesar 6,80% per tahun bagi tenor 3 tahun dan 6,90% per tahun untuk tenor 5 tahun.

Ratih Mustikoningsih selaku Financial Expert Ajaib Sekuritas mengemukakan bahwa prospek permintaan terhadap SR025 pada dasarnya masih positif. Meski begitu, tren atau karakter permohonan dari investor diperkirakan bakal bergeser menjadi lebih selektif.

Pemerintah menetapkan total kuota nasional untuk SR025 sebesar Rp 20 triliun, yang terbagi atas Rp 15 triliun untuk seri SR025-T3 dan Rp 5 triliun untuk seri SR025-T5.

Mengacu pada data terbaru hingga Jumat (28/8) pukul 12.45 WIB setelah sepekan masa penawaran, sisa kuota nasional SR025-T3 tercatat berada pada angka Rp 11,81 triliun atau setara 78,76% dari total kuota. Di sisi lain, sisa kuota untuk SR025-T5 masih berada di level Rp 4,15 triliun atau setara 83,12%.

"Di tengah tekanan geopolitik yang mengerek harga minyak Brent, tren kenaikan BI Rate sejak Mei 2026 sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%, serta melesatnya yield SRBI hingga 7,37% untuk tenor 12 bulan, kami melihat prospek permintaan SR025 tetap positif, namun karakternya akan lebih selektif dibandingkan ORI030," ujar Ratih sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun kupon SR025 yang berkisar antara 6,80%-6,90% berada di bawah tingkat kupon ORI030 yang berada pada rentang 6,90%-7%, Ratih memandang instrumen ini masih sangat realistis dan menarik bagi investor ritel.

Keunggulan utama SR025 terletak pada kesempatan yang diberikan kepada investor untuk mengunci imbal hasil dalam cakupan jangka panjang. Menurut penjelasan Ratih, yield SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 7,37% sejatinya hanya memberi kepastian imbal hasil pada jangka pendek semata.

Lebih lanjut, investor instrumen SRBI juga dihadapkan pada risiko reinvestasi tatkala tingkat suku bunga mengalami penurunan di kemudian hari. Sebaliknya, SR025 sanggup menjamin kepastian kupon tetap sampai periode tiga hingga lima tahun mendatang.

Dilihat dari aspek perpajakan, instrumen SR025 turut menawarkan nilai lebih. Pajak imbal hasil untuk SBN ritel hanya dipatok sebesar 10%, jauh lebih rendah bila disandingkan dengan pajak deposito sebesar 20% maupun instrumen pasar uang tertentu lainnya.

Berdasarkan kalkulasi Ratih, imbal hasil bersih SR025 tenor 5 tahun yang berkisar 6,21% tetap tergolong atraktif bila dibandingkan dengan rata-rata bunga bersih deposito perbankan. Saat ini bunga deposito berada pada kisaran 4%-5% per tahun dengan tingkat fleksibilitas waktu investasi yang cenderung lebih terbatas.

Di samping itu, karakteristik SR025 yang berbasis sukuk secara otomatis menciptakan ceruk pasar tersendiri bagi kalangan investor yang mengedepankan prinsip syariah.

Kendati dibekali deretan nilai tambah, Ratih mencermati terdapat beberapa kendala utama yang berpotensi menahan laju penjualan SR025.

Faktor pembatas pertama adalah nominal kupon SR025 yang tercatat lebih rendah ketimbang ORI030. ORI030 yang dirilis pada Juli 2026 menyajikan kupon 6,90% untuk tenor 3 tahun dan 7% untuk tenor 6 tahun, sedangkan SR025 mematok kupon 6,80% untuk tenor 3 tahun dan 6,90% untuk tenor 5 tahun.

"Investor ritel yang sensitif terhadap yield membuat perbedaan kupon sebesar 10 bps (0,10%) untuk membatasi alokasi dana pada SR025," kata Ratih sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Faktor kedua berasal dari persaingan ketat dengan instrumen besutan pemerintah serta Bank Indonesia lainnya. Yield SRBI tenor 12 bulan per Agustus 2026 yang menembus 7,37% berpotensi memikat investor bermodal besar maupun lembaga institusi meski tenornya lebih singkat.

Ratih mencatat bahwa angka outstanding SRBI per 31 Juli 2026 sudah menyentuh Rp 1.059,30 triliun, atau telah tumbuh 40,3% secara year to date (YtD).

Tak hanya SRBI, investor berpengalaman juga memiliki pilihan obligasi negara seri Fixed Rate (FR) di pasar sekunder. Menurut Ratih, instrumen tersebut berpotensi menjadi opsi yang dilirik karena saat ini menyajikan yield to maturity (YtM) lebih tinggi imbas tertekannya harga obligasi menyusul kenaikan BI Rate.

Elemen lain yang berpeluang menghambat penjualan SR025 yakni kondisi ketersediaan likuiditas investor ritel itu sendiri. Langkah pemerintah menyerap likuiditas masyarakat hingga Rp 40 triliun melalui penerbitan ORI030 bulan lalu turut memberi dampak langsung.

Jarak waktu penerbitan yang relatif berdekatan—hanya berselang sekitar tiga minggu—membuat daya beli maupun likuiditas investor ritel dinilai belum pulih secara optimal untuk dapat melakukan aksi pembelian kembali secara masif.

"SR025 berpotensi tidak memecahkan rekor penjualan ORI030 akibat ketatnya likuiditas pasar saat ini," ungkap Ratih sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini