JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai menampilkan posisi yang berbeda jika dibandingkan dengan mayoritas emiten batubara nasional. Porsi pendapatan non-coal dari perseroan saat ini telah melampaui 60%, yang ditopang oleh diversifikasi bisnis.
Dalam laporan Indonesia’s Coal Sector: Outlook, Risks, and Mitigation Strategies edisi Agustus 2026, Energy Shift Institute (ESI) menilai bahwa risiko industri batubara di Indonesia semakin bersifat struktural.
Risiko-risiko tersebut di antaranya berasal dari ketergantungan ekspor ke China dan India, dominasi cadangan berkalori rendah, pelemahan daya saing harga, serta meningkatnya tekanan kebijakan domestik.
Kondisi ini menjadikan diversifikasi bisnis semakin penting bagi para pelaku usaha batubara guna membangun sumber pendapatan baru sekaligus menekan ketergantungan pada komoditas batubara.
ESI membagi langkah mitigasi perusahaan batubara ke dalam dua pendekatan, yaitu defensif dan ofensif. Pendekatan defensif berfokus pada penguatan arus kas, diversifikasi pasar dan pelanggan, serta peningkatan efisiensi operasional.
Sementara itu, strategi ofensif diarahkan pada penciptaan sumber pertumbuhan baru melalui langkah diversifikasi bisnis dan pembangunan earnings pool di luar batubara.
Dalam pemetaan ESI terhadap porsi pendapatan non-coal dan operating profit margin (OPM) kuartal I-2026, TOBA tercatat memiliki pendapatan non-coal melampaui 60%.
Capaian angka tersebut menempatkan TOBA sebagai salah satu emiten batubara yang memiliki tingkat diversifikasi bisnis paling tinggi. Kendati demikian, perubahan struktur pendapatan ini belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan profitabilitas.
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menganggap perubahan revenue mix merupakan indikator penting untuk melihat perkembangan transformasi bisnis TOBA, mengingat diversifikasi memerlukan waktu agar bisa menghasilkan kontribusi keuangan.
“Yang menarik dari TBS adalah transformasinya mulai terlihat di revenue mix. Artinya, perusahaan sudah bergerak dari tahap membangun narasi dan aset baru menuju fase kontribusi non-coal semakin nyata,” ujar Azis, Kamis (27/8) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Adapun langkah diversifikasi TOBA mencakup tiga sektor utama, yaitu energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah. Ketiga sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan tema transisi energi serta pengelolaan lingkungan.
Perubahan ini menandakan bahwa transformasi TOBA tidak sekadar menambah sumber pendapatan, tetapi juga menggeser arah portofolio bisnis perseroan ke sektor di luar batubara.
Walau begitu, ESI masih memasukkan TBS ke dalam kelompok high diversification–low operating margin. Posisi ini menggambarkan tantangan perseroan dalam mengonversi pertumbuhan bisnis non-coal menjadi profitabilitas.
Azis menilai bahwa tahap selanjutnya sangat krusial bagi TOBA untuk membuktikan kemampuan bisnis non-coal dalam mendongkrak skala usaha sekaligus memperkuat margin dan kontribusi terhadap laba.
“Setelah revenue mix berubah, tahap berikutnya adalah monetisasi. Investor akan melihat apakah energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah mampu meningkatkan skala, memperbaiki margin, dan memberikan kontribusi laba lebih besar,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam kerangka tujuh tahapan diversifikasi ESI, pergeseran bauran pendapatan TOBA kini telah mencapai tahap kelima. Dua tahap berikutnya berkaitan langsung dengan dampak terhadap margin serta penurunan risiko bisnis.
Artinya, transformasi TOBA memang mulai tampak dari struktur pendapatannya. Namun, pembuktian berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan bisnis non-coal dalam mencetak margin yang lebih baik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap batubara.
“Kalau kontribusi non-coal terus meningkat dan mulai diikuti perbaikan margin, transformasi TOBA akan semakin lengkap. Diversifikasi kemudian terlihat dari kualitas laba dan penurunan risiko bisnis,” ujar Azis sebagaimana dilansir dari berita sumber.