Pasar SBN Konsolidasi Investor Masih Berpeluang Lakukan Akumulasi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:27:04 WIB
Ilustrasi saham indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA – Peningkatan risiko perdagangan global kembali menyita perhatian pasar, meski stabilitas domestik dinilai tetap menjadi penopang bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Setelah bertahan di level tinggi selama beberapa waktu terakhir, para analis menilai pasar SBN saat ini mulai memasuki fase konsolidasi. Berdasarkan data paling anyar, imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,05 persen dan tenor dua tahun naik menjadi 6,65 persen.

Kenaikan ini menyebabkan selisih (spread) di antara keduanya berada pada kisaran 240,5 bps dan 245,1 bps. Pelebaran spread tersebut secara bertahap memulihkan ruang relative value untuk para investor.

Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyampaikan bahwa pasar SBN di dalam negeri terpengaruh oleh beberapa sentimen. Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada kembali meningkat usai Kanada mengumumkan aksi balasan atas tarif AS sebesar 50 persen.

Pemerintah Kanada bakal menerapkan tarif berkisar 15 persen - 50 persen terhadap lebih dari 700 produk AS bernilai sekitar US$ 20 miliar. Langkah ini dijadwalkan berlaku mulai 8 September 2026 yang diiringi dengan penyediaan paket dukungan bernilai US$ 7,5 miliar.

"Siklus retaliasi antara dua ekonomi yang sangat terintegrasi tersebut berisiko meningkatkan biaya input dan mengganggu rantai pasok Amerika Utara, menambah tekanan inflasi di tengah fragmentasi perdagangan global yang masih tinggi," ujar Jessica sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah bergulirnya risiko dari luar negeri tersebut, Jessica menilai arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah pimpinan Gubernur BI Destry Damayanti masih konsisten menjadi penopang stabilitas pasar dalam negeri.

Menurutnya, pandangan Destry makin mempertegas arah kebijakan BI yang memprioritaskan stabilitas atau stability-first, sembari terus berorientasi pada aspek pertumbuhan atau pro-growth.

Fokus dari kebijakan itu meliputi upaya menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, serta mempererat koordinasi lewat Sinergi Merah Putih.

Di samping itu, bauran kebijakan BI juga semakin diperluas, mencakup tata kelola arus valuta asing (valas), penyatuan kebijakan moneter, inklusi keuangan, hingga inovasi digital.

"Ini mengindikasikan BI akan semakin menggunakan stabilitas sebagai fondasi untuk membuka ruang pertumbuhan, alih-alih hanya mengandalkan suku bunga kebijakan," jelas Jessica sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, daya tahan pasar domestik terlihat dari pergerakan rupiah yang cenderung tetap stabil. Rupiah berada di kisaran level Rp 17.772 per dolar AS pada Kamis (27/8) pukul 10.47 WIB, saat indeks dolar AS (DXY) merangkak ke level 98,97.

Jessica turut memaparkan bahwa persepsi risiko terhadap aset-aset Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Kondisi ini tampak dari penurunan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun ke arah 83 basis poin (bps).

Oleh karena itu, situasi terkini lebih mengindikasikan adanya kesempatan bagi para investor untuk mengumpulkan SBN secara selektif, ketimbang dianggap sebagai tanda berbaliknya arah perbaikan pasar SBN.

Tags

Terkini