Penerbitan Obligasi Multifinance Anjlok 41,8%, Pefindo: BI Rate 5,75% Belum Cukup Menarik

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:40:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% memang memberi kepastian bagi calon penerbit surat utang. Namun, Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menegaskan hal ini belum bisa dikategorikan sebagai momentum kuat untuk mempercepat penerbitan obligasi, terutama bagi industri multifinance.

"Ditahannya BI Rate di level 5,75% memang memberikan kepastian yang lebih baik bagi issuer, tetapi belum dapat dikatakan sebagai momentum yang kuat untuk mempercepat penerbitan obligasi," ujarnya kepada Kontan, Selasa (25/8).

Biaya Pendanaan Masih Tinggi, Penerbitan Bersifat Selektif

Ahmad menjelaskan, keputusan hold tersebut hanya mengurangi risiko kenaikan biaya dana lebih lanjut dalam jangka sangat pendek. Level biaya pendanaan saat ini dinilai masih jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga perusahaan pembiayaan cenderung menahan diri.

Kondisi ini mendorong penerbitan surat utang dilakukan secara selektif. Hanya perusahaan multifinance dengan kebutuhan refinancing yang mendesak, peringkat kredit kuat, dan akses investor yang baik yang diperkirakan akan masuk pasar lebih dulu.

"Saya memperkirakan perusahaan dengan biaya dana lebih tinggi dapat menunda penerbitan atau menyesuaikan tenor, sedangkan perusahaan dengan profil kredit kuat lebih memiliki ruang untuk masuk pasar," kata Ahmad.

Refinancing Jadi Pemicu Utama Penerbitan

Kebutuhan untuk melunasi utang lama menjadi faktor krusial di tengah tingginya biaya dana. Pefindo mencatat, nilai surat utang multifinance yang jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp 17,73 triliun. Angka ini menjadi pendorong utama bagi perusahaan untuk tetap menerbitkan obligasi baru meski kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif.

Menurut Ahmad, skenario yang lebih mungkin terjadi saat ini bukanlah penghentian total penerbitan, melainkan juga belum akan terjadi gelombang penerbitan baru. Sebagian perusahaan masih memonitor pergerakan BI Rate dan kondisi pasar sebelum merealisasikan rencana mereka, sementara yang lain tetap membuka peluang penerbitan dengan mempertimbangkan likuiditas dan kebutuhan bisnis.

Kapan Momentum Penerbitan Obligasi Membaik?

Stabilitas suku bunga acuan memang membantu penerbit mendapatkan benchmark pricing yang lebih jelas. Namun, Ahmad menekankan bahwa momentum penerbitan akan jauh lebih kuat apabila stabilitas tersebut diiringi penurunan yield pasar atau munculnya ekspektasi penurunan suku bunga di masa mendatang.

Selama kupon yang diminta investor masih tinggi dan pertumbuhan piutang pembiayaan industri relatif moderat, multifinance memiliki insentif untuk membandingkan obligasi dengan pinjaman bank atau sumber dana internal sebelum memutuskan masuk ke pasar. Keputusan ini pada akhirnya akan menentukan apakah pasar obligasi multifinance akan kembali bergairah atau tetap lesu hingga akhir tahun.

Terkini