Saham Himbara Kompak Menguat Sepekan Ini Investor Asing Mulai Masuk

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:37:29 WIB
Ilustrasi Saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham-saham perbankan pelat merah Tanah Air kompak menguat sepanjang perdagangan pekan ini.

Melansir data Refinitiv, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ditutup menguat 2,87 persen pada Jumat (21/8/2026) naik ke level Rp3.230 per lembar, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sekaligus mencatatkan kenaikan terbesar dengan penguatan 3,53 persen dalam sepekan.

Jika dibandingkan dengan penutupan pekan sebelumnya di level Rp3.120, harga saham BBRI telah bertambah Rp110 per lembar, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, Himbara lainnya yakni Bank Negara Indonesia (BBNI) menyusul dengan kenaikan mingguan 2,75 persen ke posisi Rp3.730. Pada perdagangan Jumat, BBNI bahkan melonjak 3,90 persen, tertinggi di antara saham Himbara lainnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) menguat 1,20 persen sepanjang pekan dan berakhir di level Rp4.220. Pada perdagangan terakhir, BMRI mencatatkan kenaikan 1,69 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adapun Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatatkan penguatan mingguan paling terbatas sebesar 0,41 persen. Saham BBTN ditutup di level Rp1.225 setelah naik 1,66 persen pada Jumat, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebagai bank yang berfokus pada pembiayaan perumahan, pergerakan BBTN juga berkaitan erat dengan prospek penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan perkembangan suku bunga domestik.

Penguatan juga dialami oleh Bank Syariah Indonesia (BRIS). Harga saham BRIS berhasil menguat 2 persen di harga Rp1.805 pada penutupan Jumat kemarin, sekaligus menutup pekan ini dengan penguatan 0,83 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan data Activity Summary Indo Premier Sekuritas (IPOT), penguatan saham Himbara turut dibarengi masuknya dana investor asing, terutama ke BBRI, BBNI dan BRIS.

Sepanjang pekan ini, BBRI yang memiliki fokus pembiayaan pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencatatkan pembelian bersih asing atau foreign inflow sebesar Rp745,3 miliar di pasar reguler, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Jika dilihat dalam empat pekan terakhir, BBRI konsisten mencatatkan arus dana asing positif sejak awal Agustus.

Masuknya dana asing dalam jumlah besar sejalan dengan posisi BBRI sebagai saham Himbara dengan kenaikan mingguan paling tinggi.

BBNI juga membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp38,6 miliar, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sedangkan BRIS mencatatkan net buy Rp14,1 miliar, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, investor asing masih membukukan penjualan bersih pada BMRI dan BBTN. Namun, nilainya relatif terbatas sehingga tidak menghalangi kedua saham tersebut untuk tetap mencatatkan kenaikan minggu ini.

Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan saham Himbara tidak sepenuhnya berasal dari aliran dana asing. Perbaikan sentimen terhadap pasar saham Indonesia ikut menopang kenaikan saham bank-bank berkapitalisasi besar.

Penguatan saham Himbara didukung oleh fundamental industri perbankan yang relatif kuat dan terjaga.

Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pertumbuhannya meningkat dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 12,67 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penyaluran kredit yang semakin tinggi menunjukkan permintaan pembiayaan masih terjaga. Kondisi tersebut membuka ruang bagi perbankan untuk meningkatkan pendapatan bunga, termasuk bank-bank Himbara yang memiliki pangsa besar dalam penyaluran kredit nasional.

Pertumbuhan kredit juga dibarengi ketahanan permodalan dan kualitas aset yang terjaga. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,70 persen pada Juni 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) bruto berada di level 2,09 persen, sedangkan NPL neto sebesar 0,82 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga atau AL/DPK juga stabil di level 23,10 persen pada Juli 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BI turut mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong kredit ke sektor prioritas. Hingga pekan pertama Agustus 2026, insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diterima perbankan mencapai Rp446,5 triliun, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di luar faktor fundamental tersebut, pergerakan saham Himbara sepanjang pekan ini turut ditopang oleh sejumlah sentimen domestik dan eksternal. Keputusan BI mempertahankan suku bunga, perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) memperbaiki selera investor terhadap aset berisiko.

Sentimen pertama datang dari keputusan BI mempertahankan suku bunga acuannya.

Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026, telah memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BI menjelaskan keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas rupiah dari tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027 serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Keputusan menahan suku bunga memberikan kepastian bahwa biaya pinjaman tidak kembali meningkat dalam waktu dekat. Kondisi ini dapat membantu menjaga permintaan kredit sekaligus mengurangi tekanan terhadap kemampuan membayar debitur.

Belum adanya kenaikan bunga lanjutan juga menjaga daya tarik relatif pasar saham. Jika BI kembali menaikkan bunga, imbal hasil instrumen berisiko lebih rendah seperti obligasi pemerintah berpotensi meningkat sehingga dapat mengalihkan sebagian dana dari pasar saham.

Sikap BI menahan bunga akhirnya memberikan cukup ruang bagi para investor untuk kembali mengambil risiko, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid seperti bank Himbara.

Selain BI Rate, kabar positif berikutnya juga datang dari membaiknya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

BI melaporkan NPI pada kuartal II-2026 mencatatkan defisit US$900 juta, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Nilainya menyusut tajam dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I-2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang membukukan surplus US$12 miliar, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Posisi itu berbalik dari defisit US$4,8 miliar pada kuartal sebelumnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Surplus transaksi modal dan finansial didorong oleh meningkatnya aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. BI menyebut investasi portofolio mencatatkan surplus lebih tinggi seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.

Kenaikan investasi portofolio memberikan sinyal bahwa aset keuangan Indonesia masih menarik di tengah ketidakpastian global. Aliran modal asing tersebut juga membantu menopang rupiah dan memperbaiki sentimen terhadap pasar saham domestik.

Meski demikian, perbaikan NPI bukan berasal dari transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan justru melebar menjadi US$12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari US$3,6 miliar atau 1 persen terhadap PDB pada kuartal sebelumnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan demikian, penurunan tajam defisit NPI lebih banyak ditopang oleh derasnya arus investasi yang mampu menahan tekanan dari pelebaran defisit transaksi berjalan.

Dari sisi eksternal, kenaikan yang kompak pada harga saham Himbara pekan ini juga mendapat dukungan dari melemahnya indeks dolar AS (DXY).

Tekanan terhadap dolar muncul ketika kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS memicu aksi jual di pasar obligasi pemerintah. Utang AS telah menembus US$40 triliun untuk pertama kalinya, sementara kebutuhan penerbitan surat utang diperkirakan tetap besar untuk membiayai defisit anggaran.

Aksi jual membuat harga obligasi pemerintah AS turun dan imbal hasilnya melonjak. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,34 persen, level tertinggi sejak 2007, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Departemen Keuangan AS kemudian mengambil langkah untuk meredakan tekanan dengan meningkatkan program pembelian kembali atau buyback surat utang jangka panjang.

Nilai maksimal buyback obligasi tenor 10-30 tahun dinaikkan setidaknya dua kali lipat, dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar dalam setiap operasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Peningkatan tersebut berlaku untuk operasi pada 9 September hingga 4 November 2026.

Pengumuman tersebut sempat menurunkan imbal hasil obligasi AS jangka panjang hingga sekitar 10 basis poin, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pada saat bersamaan, DXY jatuh 0,84 persen ke posisi 98,80, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, langkah itu juga menimbulkan kekhawatiran bahwa upaya menahan kenaikan imbal hasil dapat memindahkan tekanan dari pasar obligasi ke dolar AS. Mata uang AS bahkan sempat berada di sekitar level terendah dalam tiga bulan terhadap euro pada Jumat.

Pelemahan dolar memberikan ruang bagi aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap rupiah berkurang, sedangkan investor global memiliki ruang lebih besar untuk menempatkan dana pada aset berisiko.

Tags

Terkini

Revolusi Edukasi Hukum Online untuk Masyarakat Modern

Senin, 07 September 2026 | 20:52:13 WIB

Panduan Lengkap Layanan Konseling Psikologi Profesional

Senin, 07 September 2026 | 20:49:48 WIB

Portal Seni Budaya: Jembatan Warisan dan Inovasi Digital

Senin, 07 September 2026 | 20:15:02 WIB

Panduan Layanan Kesehatan Lengkap dan Terpercaya

Senin, 07 September 2026 | 19:46:01 WIB