JAKARTA – PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) kembali menarik perhatian investor setelah mengumumkan agenda Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Emiten di bidang properti ini berencana menerbitkan paling banyak 502,87 juta saham baru guna memperkuat struktur permodalan serta modal kerja.
Melansir dari situs resmi perusahaan, BIPP berniat menerbitkan sebanyak-banyaknya 502.866.937 saham Seri B atau setara maksimal 10 persen dari total saham disetor penuh.
Saham baru ini dipatok dengan nilai nominal Rp100 per saham, sehingga potensi dana segar yang diraup dapat mencapai sekitar Rp50,29 miliar.
Meski demikian, penetapan harga pelaksanaan akhir tetap mengacu pada regulasi pasar modal dan pihak perseroan belum menentukan investor pembeli saham tersebut.
Persetujuan atas rencana aksi korporasi ini akan disahkan melalui RUPSLB pada 25 September 2026 dengan tenggat waktu pelaksanaan maksimal dua tahun.
Seluruh dana hasil penerbitan saham baru setelah dikurangi biaya-biaya akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis dan modal kerja perseroan beserta entitas anak.
Melalui langkah pemupukan modal tersebut, BIPP optimistis dapat mengokohkan struktur permodalan, menjaga likuiditas, dan menopang operasional usaha.
Di pasar saham, harga saham BIPP mencatatkan kenaikan sebesar 17,46 persen atau +11,00 poin ke level Rp74 per saham pada sesi I Jumat, 21 Agustus 2026.
PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk sendiri merupakan emiten properti dan real estat yang didirikan pada 1981 sebagai PT Bandung Indah Plaza sebelum berganti nama pada 1990.
Sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, kegiatan usahanya meliputi pembangunan hingga pengelolaan apartemen, perkantoran, pertokoan, perumahan, perdagangan, dan jasa.
Portofolio dan aset properti BIPP tersebar di berbagai wilayah, seperti Graha BIP, The Victoria, Cross Paasha Seminyak Bali, Cross Vibe Paasha Atelier, Paasha Resort Nusa Dua, Hotel Studio One, Apartemen Sinabung, Mall Star Square Manado, hingga Citra Maja Raya 2.
Di sektor perkantoran, perseroan mengandalkan penyewaan ruang di Graha BIP dan The Victoria sebagai penopang pendapatan berulang (recurring income).
Pada sektor perhotelan dan pariwisata, perseroan mengelola sejumlah properti strategis di Bali seperti Cross Paasha Seminyak Bali dan Paasha Resort Nusa Dua.
Portofolio properti residensial perseroan dilengkapi melalui pengelolaan Apartemen Sinabung.
Sementara pada segmen pusat perbelanjaan dan pengembangan properti lainnya, BIPP mengelola Mall Star Square Manado serta proyek Citra Maja Raya 2.
Diversifikasi aset ini membuat BIPP tidak sekadar mengandalkan penjualan properti semata, melainkan juga optimalisasi jasa penyewaan dan pengelolaan aset.
Jajaran Direksi perseroan saat ini diisi oleh Arianto Sjarief selaku Presiden Direktur (terafiliasi), serta Michelle Elisa Rusli dan Ivan Jonathan sebagai Direktur (terafiliasi).
Adapun Dewan Komisaris dijabat oleh Piter Korompis sebagai Presiden Komisaris (independen), ditemani Louise Li dan Eddy Widjaja selaku Komisaris (tidak terafiliasi).
Berdasarkan data BEI, BIPP membukukan rugi bersih pada Quarter 1 2026 sebesar Rp16,2 miliar, membengkak 252,2 persen dibandingkan rugi bersih Quarter 1 2025 yang tercatat Rp4,6 miliar.
Pembengkakan rugi ini berbanding lurus dengan penurunan pendapatan sebesar 42,2 persen dari Rp63,3 miliar pada Quarter 1 2025 menjadi Rp36,6 miliar.
Laba kotor perseroan ikut tergerus 52,7 persen menjadi Rp12,2 miliar, sedangkan EBITDA anjlok 96,4 persen menjadi Rp0,5 miliar dari sebelumnya Rp14,4 miliar.
Atas penurunan kinerja keuangan tersebut, rugi bersih per saham BIPP saat ini berada di level Rp3,21 per lembar saham.