Departemen Keuangan AS Buyback Obligasi dan Respons The Fed

Departemen Keuangan AS Buyback Obligasi dan Respons The Fed
Ilustrasi Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) (FOTO : NET)

NEW YORK – Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) bersikap hati-hati pada Kamis (20/8) mengenai efek perubahan strategi pengelolaan utang Departemen Keuangan AS pada kebijakan moneter bank sentral AS.

Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem menjelaskan kepada CNBC bahwa The Fed akan terus berfokus pada pasar tenaga kerja serta inflasi dalam menetapkan kebijakan moneter, tanpa terpengaruh kebijakan pengelolaan utang ataupun kebijakan fiskal pemerintah.

Pernyataan ini keluar setelah Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8) mengumumkan rencana menaikkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS, khususnya surat utang jangka panjang.

Imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang belakangan ini melonjak akibat kekhawatiran atas kenaikan utang pemerintah AS, inflasi yang masih di atas target The Fed sebesar 2 persen, serta dampaknya pada arus investasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Efek intervensi Treasury tersebut dinilai hanya berlangsung singkat. Imbal hasil Treasury sempat turun tajam pada Rabu, tetapi kembali merangkak naik pada Kamis.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan kepada CNBC bahwa salah satu tujuan peningkatan pembelian kembali obligasi tersebut adalah memberi sinyal ke pasar bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi.

Tindakan Treasury tersebut berpotensi menghadirkan tantangan bagi The Fed karena bisa memicu kebingungan pasar terkait lembaga yang menjadi penggerak utama kondisi keuangan.

Bila pembelian kembali obligasi sukses menekan imbal hasil Treasury secara berkelanjutan, kondisi keuangan akan menjadi lebih longgar.

Namun, hal itu dapat bertolak belakang dengan kebijakan The Fed jika bank sentral masih memerlukan suku bunga tinggi demi meredam inflasi.

Apabila kondisi keuangan kian mendukung pertumbuhan ekonomi sewaktu tekanan harga belum mereda, penurunan imbal hasil imbas intervensi Treasury malah dapat membuat kondisi pasar semakin menjauh dari ekspektasi The Fed.

Kondisi tersebut pada akhirnya bisa memperkuat alasan bagi The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya.

Bessent pada Kamis menepis adanya potensi perselisihan antara Treasury dan The Fed. Ia menegaskan keputusan suku bunga The Fed terpisah sepenuhnya dari kebijakan Departemen Keuangan.

Mengenai potensi perubahan pada neraca The Fed, Bessent menuturkan kedua lembaga bakal bekerja sama jika dibutuhkan, termasuk menyesuaikan diri dengan pengurangan kepemilikan obligasi oleh The Fed.

Musalem, yang sebelumnya menilai The Fed semestinya menaikkan suku bunga dibanding mempertahankannya di kisaran 3,50 persen–3,75 persen pada rapat 28–29 Juli, memberi sinyal cenderung mendukung kenaikan suku bunga pada rapat 15–16 September.

Ia memandang kondisi keuangan saat ini tergolong cukup longgar dan sanggup menyokong aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly memilih bersikap lebih berhati-hati.

Dalam wawancara bersama Bloomberg Television, Daly mengutarakan bahwa tingkat imbal hasil obligasi jangka panjang saat ini tidak memberi banyak petunjuk mengenai langkah penyesuaian kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Daly menyebut kebijakan The Fed sekarang sudah berada pada posisi yang tepat.

Meski begitu, ia tetap memantau pergerakan obligasi jangka panjang guna melihat sinyal pasar terkait prospek ekonomi.

Daly turut menyatakan amat mendukung keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada rapat Juli.

Saat ditanya mengenai potensi masalah bagi pelaksanaan kebijakan moneter akibat perubahan strategi penerbitan utang Treasury lewat peningkatan surat utang jangka pendek, Daly menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan.

Penambahan penerbitan utang jangka pendek dapat menekan suku bunga pasar sekaligus memicu tantangan teknis bagi The Fed dalam mengendalikan kebijakan suku bunga.

Sistem pengendalian suku bunga The Fed bergantung pada kemampuan memengaruhi kondisi pasar uang lewat bermacam instrumen serta fasilitas likuiditas.

Namun, Daly menganggap persoalan inti bagi The Fed bukan cuma masalah mekanisme teknis menjalankan mandat inflasi dan ketenagakerjaan.

Hal yang lebih krusial adalah komitmen The Fed terhadap kedua mandat tersebut beserta kemampuan untuk mencapainya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index