JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Rabu (12/8/2026), meski ruang penguatannya masih dibatasi area resistance 6.400.
Pelaku pasar kemarin mencermati evaluasi indeks MSCI serta rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menentukan arah bursa selanjutnya.
IHSG mengakhiri sesi di level 6.373,85 atau melonjak 105,97 poin (1,69 persen) dibandingkan hari sebelumnya.
Laju positif ini terjadi di tengah perhatian investor terhadap pengumuman MSCI August Index Review yang dijadwalkan pada Kamis (13/8) dini hari WIB.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto menyebut sentimen pengumuman MSCI membantu meredakan tekanan pasar sehingga mendorong penguatan IHSG.
"Namun, efeknya masih temporer karena belum mengubah fase konsolidasi IHSG," ujar William, Rabu (12/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut William, IHSG masih tertahan dalam rentang konsolidasi 5.800–6.400.
Oleh sebab itu, kendati potensi kenaikan tetap terbuka, ruang gerak indeks tergolong terbatas apabila belum berhasil menembus batas atas tersebut.
Hasil tinjauan MSCI menjadi pemicu penting bagi pergerakan jangka pendek.
MSCI dijadwalkan merilis hasil evaluasi pada 12 Agustus 2026 pukul 23.00 waktu setempat atau sekitar pukul 04.00 WIB pada Kamis (13/8).
William menilai sentimen MSCI berpotensi memberikan dorongan bagi IHSG, terutama jika hasil peninjauan tidak membawa kejutan negatif.
Meski begitu, para pemodal tetap perlu mengantisipasi daya dorong IHSG dalam melampaui resistance 6.400.
"IHSG masih akan bergerak konsolidasi. Peluang penguatan terbatas untuk menguji resistance 6.400 sangat terbuka hingga akhir pekan," imbuh William sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda juga memproyeksikan adanya potensi technical rebound pada perdagangan Kamis (13/8).
Secara teknikal, pergerakan IHSG yang kembali mendekati area resistance 6.385 memberikan peluang penguatan lebih lanjut.
"Jika mampu menembus level tersebut, target IHSG berikutnya di posisi 6.450," jelas Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping MSCI, fokus investor juga tertuju pada rilis inflasi AS periode Juli yang diproyeksikan sebesar 3,4 persen secara tahunan.
Angka tersebut krusial karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Bila data inflasi sesuai atau lebih rendah dari perkiraan, peluang The Fed bersikap lebih dovish akan kian terbuka.
Kondisi tersebut berpotensi memicu masuknya aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Jika sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi, sikap The Fed yang lebih dovish dapat menguat dan menjadi katalis positif bagi pasar emerging market," ungkap Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan demikian, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek sangat bergantung pada dua sentimen utama, yakni evaluasi MSCI dan inflasi AS.
Apabila kedua pemicu tersebut memberikan sinyal positif, peluang IHSG menembus level 6.400 menuju 6.450 akan semakin besar.
Namun sebaliknya, jika gagal melintasi resistance tersebut, IHSG berisiko kembali bergerak dalam rentang konsolidasi.