JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mendapatkan tekanan baru pascakeputusan MSCI yang mengeluarkan GOTO dari indeks MSCI Indonesia pada akhir Agustus 2026. Langkah ini semakin menambah sentimen bagi saham GOTO yang kapitalisasi pasarnya merosot drastis dari sekitar US$29 miliar menjadi sekitar US$3,2 miliar dalam beberapa tahun terakhir.
Di samping itu, saham GOTO masih tertahan di level Rp50 per saham sejak pertengahan Mei 2026. Batas terendah harga saham di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut turut memicu perhatian terkait likuiditas perdagangan saham GOTO.
Pada akhir Mei 2026, MSCI sempat membekukan perubahan posisi GOTO di dalam indeksnya. Kebijakan itu diambil lantaran muncul kekhawatir atas rendahnya likuiditas saham GOTO yang berpotensi menyulitkan investor indeks saat bertransaksi dalam jumlah besar.
Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny menjelaskan bahwa pihak manajemen memahami keputusan MSCI tersebut menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi sebagian pemegang saham.
“Kami memperhatikan keputusan MSCI terkait eksklusi GoTo dari indeks sahamnya, dan kami menyadari bahwa ini merupakan kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak pemegang saham kami,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kendati demikian, manajemen GOTO menganggap keputusan MSCI tersebut murni pertimbangan teknis akibat harga saham yang berada di level Rp50 beserta volume perdagangan yang rendah. Pihaknya menegaskan bahwa hal ini bukan dipicu oleh kinerja perusahaan.
“Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja Perseroan,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di tengah hadirnya keputusan MSCI tersebut, GOTO tetap menyoroti capaian keuangan kuartal II 2026 yang tumbuh positif. Perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih selama dua kuartal secara berturut-turut.
“Kinerja kami di kuartal kedua justru mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan laba bersih mencapai Rp 252 miliar dan pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun,” ujar Audrey sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tak hanya itu, EBITDA Grup GOTO yang disesuaikan sukses melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Pencapaian ini membuat manajemen optimistis mampu memenuhi target pedoman kinerja tahunan.
“EBITDA Grup yang disesuaikan juga meningkat hingga menembus angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya dan tetap on-track untuk mencapai pedoman kinerja tahunan kami dengan EBITDA Grup yang disesuaikan Rp 3,2 triliun–Rp3,4 triliun,” kata Audrey sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sebelumnya, FTSE Russell telah lebih dulu mengeluarkan GOTO dari indeks globalnya atau Global Equity Index Series (GEIS) kategori saham berkapitalisasi menengah pada Juni 2026.
Langkah FTSE Russell tersebut dilakukan setelah saham GOTO dipindahkan ke papan pengembangan BEI yang tidak memenuhi kriteria kelayakan FTSE Russell untuk masuk GEIS.
Ke depannya, manajemen GOTO menyatakan akan terus berkomunikasi aktif dengan MSCI mengingat evaluasi indeks dilakukan secara berkala. Perusahaan juga akan tetap berfokus pada operasional bisnis dan peningkatan nilai bagi pemegang saham.
“Keputusan peninjauan indeks dilakukan secara berkala dan kami akan terus menjalin dialog aktif dengan MSCI. Sementara itu, kami akan tetap fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,” ujar Audrey sebagaimana dilansir dari berita sumber.