JAKARTA – PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksikan masih berada dalam fase konsolidasi kinerja seiring dengan beban ekspansi yang menekan profitabilitas. Meski ekspansi jaringan rumah sakit dan pengembangan layanan terus berjalan, investor disarankan untuk cenderung wait and see mencermati konfirmasi pemulihan laba bersih perseroan.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mencatat bahwa pada paruh pertama tahun ini, pendapatan HEAL memang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,5% secara tahunan menjadi Rp 3,61 triliun. Namun, laba bersih emiten pengelola Rumah Sakit Hermina ini justru terkoreksi sekitar 14% year on year (yoy) menjadi Rp 193 miliar.
Tekanan pada profitabilitas tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal I 2026, ketika laba bersih perseroan merosot hingga 18,8% YoY. Ekky menilai pertumbuhan omzet perseroan saat ini belum berhasil terkonversi secara optimal menjadi pertumbuhan laba bersih.
"Dalam jangka pendek justru ada tambahan fixed cost, tenaga medis, dan depresiasi, sehingga perbaikan margin sangat bergantung pada seberapa cepat kenaikan volume pasien dan revenue per patient mampu mengimbangi biaya tersebut," kata Ekky sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ekky melihat ekspansi kapasitas rumah sakit di Lampung, Bogor, dan Arcamanik serta pengembangan Centers of Excellence tetap menjadi katalis positif dalam jangka menengah. Namun, kontribusinya terhadap profitabilitas tidak bisa terealisasi secara instan karena fasilitas baru membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat utilisasi yang optimal.
Di sisi lain, manajemen HEAL sendiri masih mempertahankan panduan pertumbuhan pendapatan di level dua digit hingga akhir tahun fiskal 2026. Dari pergerakan harga saham, HEAL bergerak di area Rp 670–Rp 680 per saham dan masih berada dalam tren melemah (bearish).
Dalam sebulan terakhir, harga saham emiten rumah sakit ini bahkan sempat menyentuh level terendahnya di posisi Rp 630 per saham. Melihat dinamika tersebut, Ekky menyarankan investor untuk tidak terburu-buru melakukan aksi beli di harga bawah (bottom fishing) sebelum terbentuk pola pembalikan arah yang pasti.
"Jadi untuk saat ini saya belum memberikan target harga agresif; fokus utamanya adalah menunggu stabilisasi harga dan konfirmasi pemulihan laba," jelas Ekky sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan prospek dan kinerja yang ada, Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk saham HEAL secara bertahap di area psikologis Rp 500–Rp 600 per saham dengan tetap menunggu konfirmasi pembalikan arah pergerakan harga.