Asing Borong Saham Perbankan Pekan Ini BBRI Capai Rp 1,43 Triliun

Asing Borong Saham Perbankan Pekan Ini BBRI Capai Rp 1,43 Triliun
Ilustrasi investor asing (FOTO : NET)

JAKARTA – Investor asing merealisasikan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 2,30 triliun sepanjang pekan ini. Saham bank mendominasi penyumbang pembelian bersih saham dan berlanjutnya net buy tersebut berimbas terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 1,82% menjadi 6.636 pekan ini.

Total net buy tersebut mengalami peningkatan pesat, dibandingkan pekan sebelumnya bernilai Rp 279,23 miliar. Berlanjutnya net buy saham oleh pemodal asing dalam beberapa pekan terakhir membuat total net sell saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun menjadi Rp 68,05 triliun sepanjang year to date (ytd).

Data BEI mengungkap lima saham dengan net buy terbesar pekan ini disumbangkan BBRI mencapai Rp 1,43 triliun, BBCA mencapai Rp 824,81 miliar, dan BMRI senilai Rp 713,45 miliar. Lainnya DSSA mencapai Rp 531,39 miliar dan BBNI senilai Rp 252,13 miliar.

Sebaliknya lima saham dengan torehan penjualan bersih (net sell) terbanyak pekan ini disumbangkan saham CPIN senilai Rp 516,72 miliar, GOTO mencapai Rp 450,05 miliar, EMAS senilai Rp 236,47 miliar, ISAT mencapai Rp 206,06 miliar, dan ASII senilai Rp 196,48 miliar.

Sementara itu, Mirae Sekuritas Indonesia melihat kembalinya akumulasi investor asing pada saham-saham perbankan besar menjadi salah satu faktor yang sebagai pendorong penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir. Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, akumulasi asing pada saham-saham perbankan besar menunjukkan adanya perbaikan market leadership menuju large-cap yang lebih likuid.

Mirae Asset Sekuritas menilai tren arus masuk dana asing (foreign inflows) yang berlangsung sejak Agustus 2026 menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar domestik. Kepastian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) setelah DPR menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI juga dipercaya turut menopang sentimen pasar.

Meski demikian, investor masih perlu mencermati perkembangan inflasi, permintaan domestik, serta kondisi pasar global yang dapat memengaruhi ruang penguatan IHSG lebih lanjut. “Dengan Rupiah yang relatif stabil dan koreksi SBN yang lebih terbatas dibandingkan UST, kami melihat backdrop domestik tetap konstruktif. Meski kenaikan inflasi pangan dan tekanan yield global masih membatasi ruang bagi risk-on yang lebih agresif,” sambung Rully sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index