JAKARTA – Fundamental PT Elnusa Tbk (ELSA) yang dinilai kokoh serta peningkatan aktivitas hulu minyak dan gas (migas) nasional menjadi pendorong prospek kinerja emiten jasa energi tersebut.
Keberhasilan pengeboran Sumur Semberah-206 (SEM-20-US) di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dinilai semakin mengukuhkan posisi ELSA sebagai penerima manfaat dari peningkatan kegiatan hulu PT Pertamina (Persero).
Pengeboran ini dimulai pada 4 Juni 2026, dituntaskan dalam waktu 45 hari, dan memasuki tahap uji produksi pada 19 Agustus 2026. Hasil pengujian menunjukkan produksi awal (initial production) sebesar 5,36 MMSCFD gas dan 406 BOPD minyak.
Realisasi tersebut berhasil melebihi target awal sebesar 2,1 MMSCFD gas (capaian 255%) dan 175 BOPD minyak (capaian 232%).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa keberhasilan ELSA menyelesaikan pengeboran Sumur Semberah-206 menjadi pendorong sentimen positif bagi perseroan.
"Prospek ELSA hingga akhir 2026 masih positif karena ditopang kombinasi fundamental yang solid dan katalis dari meningkatnya aktivitas hulu migas nasional," kata Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Nafan menilai keberhasilan pengeboran tersebut memperkuat rekam jejak ELSA sebagai kontraktor pengeboran. Selain itu, pencapaian tersebut berpotensi membuka peluang bertambahnya aktivitas jasa hulu Pertamina bagi perseroan.
Prospek ELSA juga terlihat dari capaian kinerja keuangan semester I-2026. Nafan mencatat laba bersih ELSA menyentuh Rp 434,7 miliar, tumbuh 29,2% secara tahunan (YoY).
Sementara itu, pendapatan perseroan menyentuh Rp 7,59 triliun, atau naik 8,9% YoY.
"Yang menarik, perusahaan masih memiliki contract book sekitar Rp 18,8 triliun yang berpotensi menopang akselerasi pendapatan pada semester II," tambah Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lebih lanjut, Nafan mencermati sejumlah katalis yang dapat mendongkrak kinerja ELSA hingga akhir tahun. Salah satunya datang dari ekspansi layanan upstream perseroan.
ELSA juga mempunyai peluang untuk mengelola lapangan melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO)/Life Cycle Operation (LCO).
Di samping itu, peningkatan aktivitas drilling, seismic, serta well services berpotensi memberikan kontribusi positif pada kinerja perseroan.
Dukungan pemerintah terhadap target peningkatan lifting migas nasional turut menjadi faktor pendorong bagi ELSA. Peningkatan target produksi migas domestik berpotensi memicu aktivitas di sektor hulu, yang pada akhirnya memberikan peluang bagi penyedia jasa pendukung seperti ELSA.
Analis Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra memproyeksikan pendapatan ELSA pada 2026 diperkirakan menyentuh Rp 16,16 triliun. Nilai tersebut naik sekitar 11,4% YoY dibandingkan realisasi pendapatan 2025 yang sebesar Rp 14,50 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diperkirakan ikut mendorong kenaikan laba bersih ELSA. Laba bersih perseroan pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 907 miliar, naik sekitar 26,3% dibanding realisasi laba bersih 2025 sebesar Rp 718 miliar.
Mempertimbangkan sejumlah katalis tersebut, Nafan memberikan rekomendasi add untuk saham ELSA dengan target harga Rp 835 per saham.
Inav pun turut merekomendasikan investor untuk buy saham ELSA dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 1.160 per saham.