Market Cap BEI Bergeser, BREN & DSSA Tertekan, MORA 10 Besar, Investor Harus Apa?

Market Cap BEI Bergeser, BREN & DSSA Tertekan, MORA 10 Besar, Investor Harus Apa?
Ilustrasi bursa efek indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA - Peta emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia mengalami perubahan sepanjang 2026. Hal tersebut memicu pertanyaan penting mengenai langkah yang harus diambil oleh para investor saat kondisi pasar bergeser.

Tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar membuat posisi teratas bergeser dibandingkan akhir 2025. PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN menjadi salah satu emiten yang mengalami penurunan kapitalisasi pasar paling signifikan.

Berdasarkan data penutupan perdagangan 31 Agustus 2026, market cap BREN tercatat Rp444 triliun. Angka tersebut anjlok dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp1.298 triliun.

Perusahaan yang dikuasai pengusaha Prajogo Pangestu itu bukan lagi pemilik market cap tertinggi di bursa. BREN kini menempati posisi kelima market cap terbesar di pasar modal.

Penurunan tajam juga terjadi pada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA. Pada akhir 2025, kapitalisasi pasar DSSA masih mencapai Rp778 triliun.

Per 31 Agustus 2026, nilai pasar perusahaan milik Sinar Mas Grup turun menjadi Rp214 triliun. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA bahkan keluar dari jajaran 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Kapitalisasi pasar TPIA menyusut dari Rp606 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp169 triliun per 31 Agustus 2026. Data tersebut juga dilaporkan dalam pemberitaan pasar pada penutupan perdagangan 31 Agustus.

PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA masih mempertahankan posisi sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar. Per 31 Agustus 2026, market cap BBCA mencapai Rp790 triliun.

Posisi kedua ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI dengan kapitalisasi pasar Rp488 triliun. Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk atau BYAN naik ke posisi keempat dengan market cap Rp469 triliun.

Kenaikan peringkat BYAN terutama terjadi karena tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya tidak diikuti penurunan dengan skala yang sama. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah mengatakan penurunan BREN dan DSSA antara lain dipengaruhi perubahan konstituen indeks yang dilakukan penyedia indeks global.

MSCI mengeluarkan BREN dan DSSA dalam rebalancing Mei 2026 karena keduanya masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration. Sementara itu, FTSE Russell juga mengeluarkan DSSA dari indeks large cap dalam tinjauan Juni 2026.

Salah satu alasan yang dicantumkan FTSE adalah tingginya konsentrasi kepemilikan saham DSSA. "Penurunan ini tidak hanya terlihat di kedua saham itu, tetapi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar lainnya. Meskipun penurunannya tidak signifikan dua saham tersebut," jelas Fath, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pergeseran peringkat BYAN lebih disebabkan oleh penurunan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Sementara itu, tekanan terhadap saham BYAN relatif lebih terbatas.

Selain BYAN, perubahan mencolok juga terjadi pada PT Ekamas Mora Republik Tbk atau MORA. Emiten Grup Sinar Mas tersebut berhasil masuk ke jajaran 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Per 31 Agustus 2026, market cap MORA mencapai Rp265 triliun. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai perubahan peta kapitalisasi pasar bursa mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap valuasi dan prospek fundamental emiten.

Pergerakan tersebut merupakan kombinasi re-rating atau de-rating valuasi, perubahan ekspektasi terhadap fundamental, serta sentimen dan rumor korporasi. MORA mendapatkan sentimen dari aksi merger dengan MyRepublic.

Pasar melihat potensi sinergi pascamerger, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan dan efisiensi operasional. "Masuknya MORA ke jajaran kapitalisasi pasar terbesar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan, efisiensi operasional, dan penguatan posisi di industri fixed broadband," kata Nafan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Nafan mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko pada saham BYAN. Sebelumnya memang beredar rumor bahwa saham BYAN akan diakuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Namun, manajemen BYAN telah menyatakan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2% saham perseroan. Karena itu, rumor tersebut belum dapat dijadikan dasar bahwa aksi akuisisi akan terjadi.

Apabila rumor akuisisi tidak terealisasi, saham BYAN tetap memiliki risiko mengalami koreksi. "Apabila rumor akuisisi tersebut pada akhirnya tidak terealisasi, ada risiko koreksi tetap ada karena sebagian investor yang masuk berdasarkan ekspektasi aksi korporasi dapat melakukan profit taking atau sell on news," jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan proses normalisasi valuasi setelah mengalami apresiasi tinggi. Kondisi tersebut membuat investor semakin selektif dalam menilai keberlanjutan pertumbuhan laba dan kualitas fundamental emiten.

"Penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan adanya normalisasi valuasi setelah sebelumnya mengalami apresiasi yang sangat tinggi, sehingga investor menjadi lebih selektif terhadap pertumbuhan laba dan kualitas fundamental," kata Nafan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Perubahan kapitalisasi pasar dapat digunakan sebagai sinyal awal dalam melakukan screening saham. Namun, market cap saja belum cukup menjadi dasar keputusan investasi tanpa melihat valuasi dan fundamental perusahaan.

Nafan masih melihat peluang pada sektor perbankan untuk saham berkapitalisasi besar. Ia merekomendasikan BBCA dengan target harga Rp7.900, BBRI dengan target Rp3.440, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI dengan target harga Rp4.720.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index