Peta Market Cap BEI: BBCA Bertahan, BREN dan DSSA Tergusur

Peta Market Cap BEI: BBCA Bertahan, BREN dan DSSA Tergusur
Ilustrasi bursa efek indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA – Tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan ini memicu pergeseran posisi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bila dibandingkan posisi akhir 2025, banyak saham papan atas yang berguguran, dengan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan penurunan paling tajam.

Data penutupan 31 Desember 2025 mencatat market cap BREN sebesar Rp 1.298 triliun. Namun hingga akhir perdagangan Senin (31/8/2026), nilainya menyusut menjadi Rp 444 triliun dan menempati peringkat kelima.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut mengalami penurunan nilai pasar yang besar. Kapitalisasi pasar DSSA berkurang dari Rp 778 triliun di akhir 2025 menjadi tersisa Rp 214 triliun saat ini.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bahkan terlempar dari 10 besar. Market cap emiten ini merosot dari Rp 606 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 169 triliun.

Di tengah tekanan tersebut, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) justru naik ke peringkat keempat dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 469 triliun.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga mencetak lonjakan signifikan. Entitas Grup Sinarmas ini berhasil melesat ke jajaran 10 besar dengan market cap Rp 265 triliun per Senin (31/8/2026).

Puncak klasemen masih dihuni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertorehan Rp 790 triliun. Posisi kedua ditempati PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar Rp 488 triliun.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah menjelaskan bahwa penurunan BREN dan DSSA dipicu oleh keputusan penyedia indeks global maupun domestik yang mengeluarkan keduanya dari daftar konstituen.

MSCI resmi mengeluarkan BREN dan DSSA pada rebalancing Mei 2026 lantaran masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC).

FTSE Russell juga mengeliminasi DSSA pada rebalancing Juni 2026 karena persoalan HSC serta porsi free float.

“Penurunan ini tidak hanya terlihat di kedua saham itu, tetapi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar lainnya. Meskipun penurunannya tidak signifikan dua saham tersebut,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Fath menilai kenaikan peringkat BYAN terjadi karena penurunan pada saham berkapitalisasi besar lain tidak seberat tekanan yang dialami BYAN.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta berpendapat pergeseran kapitalisasi pasar sepanjang 2026 merefleksikan perubahan ekspektasi investor terhadap valuasi serta fundamental emiten.

“Perubahan peta kapitalisasi pasar saham-saham terbesar di BEI sepanjang 2026 merupakan kombinasi antara re-rating atau de-rating valuasi, perubahan ekspektasi terhadap prospek fundamental emiten, serta sentimen dan rumor korporasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BYAN diterpa rumor akan diakuisisi oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Sementara MORA menguat dipicu aksi merger bersama PT Eka Mas Republik (MyRepublic).

Nafan mengingatkan bahwa risiko koreksi pada saham BYAN tetap terbuka bila rumor akuisisi gagal terealisasi, yang berpotensi memicu aksi profit taking atau sell on news.

“Apabila rumor akuisisi tersebut pada akhirnya tidak terealisasi, ada risiko koreksi tetap ada karena sebagian investor yang masuk berdasarkan ekspektasi aksi korporasi dapat melakukan profit taking atau sell on news,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kehadiran MORA di jajaran emiten berkapitalisasi terbesar menunjukkan ekspektasi terhadap sinergi operasional dan perluasan pelanggan usai merger.

“Masuknya MORA ke jajaran kapitalisasi pasar terbesar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan, efisiensi operasional, dan penguatan posisi di industri fixed broadband,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menandaskan penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA merupakan bentuk normalisasi valuasi setelah sempat naik amat tinggi, sehingga investor makin selektif.

“Penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan adanya normalisasi valuasi setelah sebelumnya mengalami apresiasi yang sangat tinggi, sehingga investor menjadi lebih selektif terhadap pertumbuhan laba dan kualitas fundamental,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Perubahan kapitalisasi pasar dinilai bisa menjadi indikator awal screening saham, walau belum cukup menjadi landasan mengeksekusi beli atau jual tanpa analisis valuasi mendalam.

Nafan masih menjagokan saham perbankan di jajaran 10 besar. Ia merekomendasikan BBCA dengan target harga Rp 7.900, BBRI Rp 3.440, dan BMRI Rp 4.720.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index