Bukan Semua Padang Lamun di Indonesia Sama, Konservasi Tak Bisa Diseragamkan

Bukan Semua Padang Lamun di Indonesia Sama, Konservasi Tak Bisa Diseragamkan

FINANSIALINSIGHT.COM — Indonesia punya lebih dari 660.000 hektare padang lamun yang jadi rumah bagi biota laut, penyerap karbon, dan pelindung garis pantai. Sayangnya, kondisi ekosistem ini tidak seragam di semua wilayah, dan sebagian di antaranya justru berada dalam tekanan berat.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Science of The Total Environment ini memotret kondisi lamun di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur. Hasilnya, muncul gambaran mosaik ekologis yang kompleks: ada wilayah yang tumbuh subur, ada yang kritis, dan ada pula yang menyimpan kejutan.

Skor Kualitas Ekologi yang Jauh Berbeda

Tim peneliti yang dipimpin Prof. Rohani Ambo-Rappe dari Departemen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin mengembangkan Indeks Kualitas Ekologi Rumput Laut (SEQI). Indeks ini mengukur lima indikator: keanekaragaman spesies lamun, tutupan lamun, kejernihan air, tutupan makroalga, dan tutupan epifit.

Hasilnya, skor SEQI berkisar antara 0,39 hingga 0,88. Nilai tertinggi tercatat di Pasi-Gusung, Parak, dan Maharayya, dengan keanekaragaman spesies tinggi dan air yang jernih. Sebaliknya, Lae-Lae di Makassar mencatat skor terendah dengan tutupan lamun yang sangat tipis dan kualitas air yang menurun.

"Kami menggabungkan indeks tersebut dengan analisis spasial dan multivariat untuk memahami bagaimana kondisi ekologi bervariasi di antara berbagai lokasi," ujar Ambo-Rappe, dikutip dari Phys, 21 Agustus 2026.

Hotspot, Coldspot, dan Zona yang Perlu Perhatian Khusus

Para peneliti menemukan perbedaan kondisi ini tidak terjadi acak. Di Indonesia tengah, kualitas ekologi lamun membentuk pola spasial berupa titik panas (hotspot), titik dingin (coldspot), dan lokasi menyimpang (outlier).

Lokasi seperti Pasi-Gusung, Liukangloe, Maharayya, dan Parak masuk kategori hotspot—kawasan sehat yang dikelilingi ekosistem sehat lainnya. Kawasan ini direkomendasikan untuk prioritas konservasi guna mempertahankan ketahanan ekologis yang sudah ada.

Sebaliknya, Sekotong, Lanjukang, Badi-Alami, Badi-Restorasi, Waboela, dan Lapandewa masuk coldspot. Ekosistem di sana terdegradasi dan membutuhkan intervensi restorasi atau pengurangan tekanan lingkungan.

Ada juga lokasi dengan kondisi kontras di tengah lingkungan sekitarnya. Bone Batang dan Barrang Lompo punya ekosistem relatif sehat di area yang kurang sehat, sehingga berpotensi menjadi tempat perlindungan ekologi yang rentan. Sementara Lae-Lae dan Bonto Bahari justru terdegradasi di tengah sistem lamun yang lebih sehat, membuka peluang untuk restorasi yang ditargetkan.

Pendekatan Konservasi yang Lebih Cerdas

Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan konservasi lamun tidak bisa memakai pendekatan satu ukuran untuk semua. Mosaik ekologis yang unik ini menuntut pengelolaan yang mempertimbangkan konteks spasial masing-masing wilayah.

Alih-alih memperlakukan setiap padang lamun secara terpisah, mengidentifikasi kelompok ekologis berdasarkan kemiripan kondisi bisa jadi langkah awal yang lebih efektif. Dengan begitu, upaya perlindungan dan restorasi bisa diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan, sekaligus menjaga kawasan yang sudah sehat tetap aman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index