Indonesia Kembali Puasa Gelar Juara Dunia, Rentang Terlama Sejak Era 1983

Indonesia Kembali Puasa Gelar Juara Dunia, Rentang Terlama Sejak Era 1983

FINANSIALINSIGHT.COM — Kekuatan bulu tangkis dunia yang semakin merata kerap disebut sebagai alasan utama sulitnya Indonesia meraih gelar juara dunia. Namun, fakta di lapangan menunjukkan China justru tidak pernah merasakan dampak negatif dari kondisi ini, sementara Indonesia harus menerima kenyataan pahit dengan perpanjangan puasa gelar.

Empat Edisi Tanpa Juara, Rentang Terlama Sejak 1983

Terakhir kali Indonesia merasakan gelar juara dunia adalah pada 2019 melalui Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Setelah itu, Indonesia tercatat gagal total dalam lima edisi Kejuaraan Dunia, dengan mengesampingkan edisi 2021 saat Pelatnas PBSI tidak mengirimkan pemain.

Artinya, sudah empat Kejuaraan Dunia beruntun—2022, 2023, 2025, dan 2026—tidak ada satupun wakil Indonesia yang berhasil menjadi juara. Durasi ini menjadi yang terlama sejak era puasa 10 tahun antara gelar Icuk Sugiarto pada 1983 dan gelar Joko Suprianto, Susy Susanti, serta Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky pada 1993.

Perbedaannya, saat itu Kejuaraan Dunia digelar dua tahun sekali dan Indonesia hanya melewatkan empat edisi. Kini, dengan format tahunan, kegagalan tersebut terasa lebih berat.

Bukan Kalah di Final, Tapi Tak Punya Andalan

Yang lebih miris, kegagalan Indonesia di Kejuaraan Dunia 2026 bukan karena kalah di babak final atau semifinal. Indonesia justru tidak memiliki cukup banyak pasukan dan andalan yang bisa diharapkan untuk bersaing hingga fase akhir.

Sebelum turnamen dimulai, Indonesia hanya menempatkan dua wakil di unggulan empat besar, yakni Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie. Di bawah mereka, ada Putri Kusuma Wardani serta Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi yang menempati unggulan 10 besar.

Ketika satu per satu unggulan tumbang, peluang Indonesia meraih gelar ikut melayang. Harapan sempat muncul lewat penampilan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang tampil sebagai kejutan, namun langkah mereka terhenti di semifinal.

Meratanya Kekuatan Dunia vs Konsistensi China

Fenomena meratanya kekuatan bulu tangkis dunia memang nyata. Jepang kembali berjaya, India memiliki pemain elite level dunia, hingga munculnya nama-nama sensasional seperti Carolina Marin dari Spanyol dan Tai Tzu Ying dari Taiwan.

Namun China seolah kebal terhadap perubahan ini. Mereka tetap konsisten melahirkan juara dari waktu ke waktu, baik di Kejuaraan Dunia maupun Olimpiade. Pada Kejuaraan Dunia 2026, China sempat berada dalam kondisi genting setelah Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah di dua nomor awal, tetapi Liang Weikeng/Wang Chang akhirnya menyelamatkan wajah China dengan gelar juara.

Indonesia, di sisi lain, masih berkutat dengan ketergantungan pada sektor ganda putra dan minimnya regenerasi di nomor-nomor lain. Selama kesenjangan ini belum diperbaiki, label "negara yang menderita" di tengah meratanya persaingan akan terus melekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index