IHSG Tembus Resistance Penting, Berpotensi Lanjutkan Penguatan

IHSG Tembus Resistance Penting, Berpotensi Lanjutkan Penguatan
Ilustrasi pasar modal (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali bergerak menguat pada sesi perdagangan Jumat (21/8/2026).

Pada hari Kamis (20/8/2026), IHSG mengakhiri sesi dengan kenaikan sebesar 1,68% menuju posisi 6.501,58.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengungkapkan, bila ditinjau dari sisi teknikal, keberhasilan IHSG menembus resistance 6.454–6.491 menjadi sinyal positif karena level tersebut sebelumnya menjadi area yang perlu dilewati untuk mengonfirmasi keberlanjutan rebound sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Hendra, selama IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan menuju resistance berikutnya di 6.877–6.971 masih terbuka sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, lonjakan harian sebesar 1,68% tersebut tetap wajib diwaspadai supaya para pelaku pasar tidak langsung melakukan aksi beli secara terlampau agresif. Usai bergerak naik secara cepat, potensi profit taking maupun konsolidasi jangka pendek sangat terbuka, khususnya pada deretan saham yang harganya sudah melonjak signifikan.

Lantaran hal tersebut, batas 6.491 menjadi titik krusial yang patut dipantau. Apabila dapat bertahan di atas batas itu, tren kenaikan masih berada dalam kondisi yang relatif sehat. Namun, jika kembali melorot ke bawahnya, IHSG berpeluang menguji level support terdekat pada kisaran MA50 di area 6.295.

“Support berikutnya berada di 6.000–6.029 dan menjadi area yang cukup penting untuk menjaga struktur rebound IHSG,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menghadapi sesi perdagangan Jumat (21/8/2026), IHSG diproyeksikan masih mengantongi peluang untuk melanjutkan penguatannya dalam rentang pergerakan sekitar 6.450–6.600.

Skenario positif tersebut berpeluang terjadi jika IHSG sanggup bertahan di atas level 6.491, terlebih bila kembali memperoleh sokongan dari saham-saham berkapitalisasi besar serta aliran modal asing.

Walau begitu, menyusul penguatan signifikan pada perdagangan Kamis, potensi terjadinya aksi ambil untung tetap membayang sehingga dinamika harga dapat bergerak lebih fluktuatif.

Oleh sebab itu, pelaku pasar diimbau tidak sekadar memantau arah naik turunnya IHSG, melainkan juga menakar mutu dari penguatan tersebut, terutama kepastian hadirnya net buy asing dan kenaikan volume transaksi.

Bila kedua indikator itu bertahan secara konsisten, momen rebound IHSG berpotensi tereskalasi menjadi alur pemulihan yang jauh lebih kokoh.

“Dalam jangka lebih panjang, target teknikal berada di area 6.877–6.971, tetapi untuk mencapainya IHSG perlu terlebih dahulu melewati beberapa fase konsolidasi,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ditinjau dari aspek sentimen, pendorong utama masih datang dari faktor internal, khususnya perbaikan risk appetite pemodal setelah IHSG berhasil melampaui level resistance kunci beserta kembalinya aksi beli bersih investor asing.

Di samping itu, para investor bakal mencermati pergerakan pasar global, nilai tukar rupiah, komoditas, hingga kebijakan suku bunga global.

Hendra menyebutkan, seiring langkah IHSG yang saat ini bergerak cukup kencang, pemicu dari luar negeri tetap berpotensi menimbulkan gejolak apabila bursa global mengalami tekanan.

Hal tersebut menandakan bahwa fondasi pemulihan sejatinya sudah mulai terbangun, tetapi masih belum tepat apabila kenaikan dalam satu hari langsung ditafsirkan sebagai pembalikan tren jangka panjang.

“Pasar masih membutuhkan konfirmasi berupa kemampuan IHSG bertahan di atas resistance yang baru ditembus serta keberlanjutan akumulasi investor asing,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hendra pun merekomendasikan trading buy untuk SRTG, BRMS, dan SCMA dengan target harga masing-masing Rp 2.100 per saham, Rp 750 per saham, dan 250 per saham.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index