NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Wall Street berada di bawah tekanan seiring meredupnya optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, Indeks S&P 500 mengalami penurunan 0,32% ke level 7.728,20. Indeks Nasdaq melemah 0,60% menuju 26.445,45, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,34% ke level 53.791,85.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian para investor. Hal ini terjadi setelah pejabat baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup apabila AS tidak mengubah sikap serta menerima syarat Iran untuk mengakhiri perang.
Perkembangan kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai konflik yang berpotensi berlangsung lebih lama dan mengganggu pasokan energi dunia. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar level tertinggi dalam sepekan kendati bergerak cukup bergejolak.
Adanya kenaikan harga energi ini turut mendorong peningkatan sektor energi S&P 500 sebesar 1,1%.
"Memang sulit mencapai kesepakatan yang bisa diterima semua pihak. Harga minyak sedikit lebih tinggi karena pasar memperhitungkan ketidakpastian yang lebih besar," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi Baird sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tekanan bagi bursa saham juga berasal dari melemahnya saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Amazon mengalami penurunan 2,1%, sementara Alphabet merosot 3,8%. Kedua emiten tersebut menjadi penekan utama bagi indeks S&P 500 dan Nasdaq.
Di samping itu, saham SpaceX terkoreksi hampir 4%. Sebaliknya, beberapa perusahaan pengelola aset alternatif justru mencatatkan penguatan. Saham Apollo Global melesat 6,2% dan Blackstone melambung hampir 4%.
Kinerja positif dari kedua perusahaan tersebut didorong sentimen positif usai sejumlah lembaga keuangan bermitra dengan Nvidia untuk membangun platform pembiayaan komputasi bernilai lebih dari US$ 500 miliar.
Kendati tiga indeks utama Wall Street melemah, tekanan pasar secara umum tergolong tidak terlalu meluas. Saham yang menguat di S&P 500 masih melampaui saham yang melemah dengan rasio 1,2 banding 1.
S&P 500 mencatat 22 saham mencapai level tertinggi baru dan satu saham menyentuh level terendah baru. Adapun di indeks Nasdaq, sebanyak 108 saham mencatatkan level tertinggi baru dan 75 saham menyentuh level terendah baru.
Sebelumnya, hasil kinerja laba perusahaan yang solid telah mendorong S&P 500 memecahkan rekor tertinggi pada pekan lalu. Meski demikian, Nasdaq masih berada sekitar 2% di bawah rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni.
Sentimen pasar juga tetap ditopang indikasi bahwa investasi jumbo Microsoft dan Amazon pada pusat data kecerdasan buatan (AI) mulai membuahkan hasil.
Saat ini fokus investor tertuju pada rilis data inflasi konsumen dan produsen AS dalam dua hari mendatang. Data tersebut dinilai krusial dalam mengarahkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Para pelaku pasar masih silang pendapat terkait peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan September.
Pergerakan harga energi imbas dinamika konflik Iran turut meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini menuntut bank sentral di berbagai negara menghadapi pilihan kebijakan yang kian kompleks.
Dari ranah korporasi, saham Jabil melesat 5,9% usai UBS menaikkan rekomendasi saham perusahaan manufaktur elektronik tersebut menjadi "buy" dari "neutral".
Sebaliknya, saham On anjlok 20,3% akibat capaian penjualan perusahaan pakaian olahraga tersebut yang berada di bawah proyeksi pasar. Saham perusahaan LNG Venture Global juga mengalami penurunan 7,3% setelah pendapatan kuartal II sedikit di bawah perkiraan.
Adapun volume perdagangan di bursa AS relatif sepi. Sekitar 15 miliar saham berpindah tangan, angka ini lebih rendah dibanding rata-rata 17,6 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.