JAKARTA – Wall Street mengalami guncangan akibat aksi jual saham produsen chip di tengah keraguan investor terhadap valuasi tinggi investasi kecerdasan buatan. Di saat bersamaan, lonjakan harga minyak mentah memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Sektor saham yang memimpin kinerja tahun ini kini mengalami tekanan signifikan, dengan indeks perusahaan semikonduktor merosot lebih dari 4,5 persen. Bahkan kinerja laba kuartalan Samsung Electronics Co. yang mencatatkan rekor tertinggi gagal menarik minat investor.
Indeks Nasdaq 100 terpantau turun 1,8 persen, meski perusahaan SpaceX kini resmi bergabung ke dalam indeks tersebut. Namun, sebagian besar perusahaan dalam S&P 500 tetap menguat, yang mengindikasikan adanya rotasi dana ke sektor lain.
Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga minyak mentah AS menyentuh 72 dolar AS per barel setelah Departemen Keuangan AS mencabut pengecualian penjualan minyak Iran. Kenaikan biaya energi ini memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong aksi jual pada obligasi pemerintah AS.
Perusahaan semikonduktor global kini menghadapi gejolak akibat kekhawatiran persaingan, potensi kelebihan kapasitas, dan keraguan atas efektivitas investasi kecerdasan buatan.
"Kami tetap yakin terhadap prospek pertumbuhan AI dan masih melihat peluang yang menarik di sektor semikonduktor serta perangkat keras. Namun, kami juga telah menekankan bahwa fase kenaikan berikutnya di pasar saham kemungkinan akan ditandai oleh meluasnya kepemimpinan pasar ke lebih banyak sektor," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office, sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Investor sebaiknya memastikan portofolionya terdiversifikasi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Isu rotasi antarsektor memang sedang menjadi perhatian utama saat ini, tetapi rotasi di dalam sektor teknologi sendiri mungkin justru lebih penting untuk dicermati," ujar Matt Maley dari Miller Tabak, sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Jika rotasi itu terus berlanjut, investor bullish akan tetap memegang kendali pasar," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Maley mencatat bahwa reli pasar saham mulai mendatar dalam empat hingga enam pekan terakhir, meski kondisi ini bisa jadi hanyalah jeda setelah reli kuat selama April dan Mei. Sorotan kini tertuju pada hasil kinerja bank-bank besar yang akan dimulai pekan depan untuk melihat dampaknya terhadap prospek teknologi.
Risiko utama bagi pasar adalah kegagalan perusahaan teknologi, khususnya kelompok hyperscaler, dalam memenuhi ekspektasi analis yang dianggap terlalu optimistis. "Hal itu dapat memicu koreksi pada saham-saham teknologi," ujar Ed Yardeni sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Pasar saham secara keseluruhan mungkin dapat menghindari koreksi apabila investor mengalihkan dana ke sektor-sektor yang selama ini tertinggal namun mampu membukukan laba yang melampaui ekspektasi. Kami termasuk pihak yang meyakini skenario rotasi sektor untuk prospek pasar saham ke depan," tambah Ed Yardeni sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah ini merupakan titik balik besar, yakni pembalikan struktural utama dalam perdagangan bertema AI. Namun, cukup adil untuk mengatakan bahwa era perdagangan AI yang 'mudah'—ditandai reli parabola yang mulus—kemungkinan memang sudah berlalu," sebagaimana dilansir dari sumber berita.