Bitcoin dan Ethereum Tertekan, Begini Proyeksi Harganya Akhir 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 01:25:39 WIB
Ilustrasi Ethereum, (FOTO : NET)

JAKARTA – Tekanan dari pasar global masih terus menghantui pergerakan aset kripto utama sepanjang satu pekan terakhir. Walau demikian, potensi pemulihan bagi Bitcoin, Ethereum, serta beberapa aset kripto berkapitalisasi besar lainnya tetap terbuka sampai akhir 2026, khususnya apabila sentimen suku bunga dan aliran dana institusi mulai membaik.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (11/9/2026) jam 14.53 WIB, sebagian besar aset kripto utama masih berkutat dalam tren penurunan selama tujuh hari belakangan. Nilai Bitcoin (BTC) berada pada level US$77.193,50 atau merosot 4,36 persen, Ethereum (ETH) berada di posisi US$2.465,56 atau melemah 1,59 persen, dan Solana (SOL) terkoreksi 3,83 persen menuju US$99,74.

Analis Reku Andri Fauzan menyebutkan bahwa tekanan yang terjadi pada pasar kripto dalam pekan ini utamanya dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi. Salah satu penyebab utamanya yakni naiknya ekspektasi pemangkasan atau penyesuaian suku bunga The Fed pada rapat 16 September yang telah menembus angka 60 persen–70 persen.

Tekanan pasar ini kian berat akibat lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), naiknya harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi, keluarnya dana dari ETF Bitcoin, aksi jual untung, hingga maraknya likuidasi posisi long di pasar futures.

Walau begitu, Andri memperkirakan bahwa tekanan jangka pendek ini tidak lantas menjadi penanda bahwa pasar aset kripto akan terus merosot hingga penutup tahun.

"Prospek beberapa mata uang kripto utama hingga akhir tahun masih memiliki peluang untuk pulih dan tidak otomatis melanjutkan tren pelemahan," kata Andri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Andri melanjutkan bahwa terdapat beberapa faktor struktural yang berpeluang menjadi penyokong pergerakan pasar kripto. Faktor tersebut mencakup langkah buyback Treasury, kecemasan atas kondisi fiskal AS, serta potensi hadirnya kepastian regulasi yang lebih jelas.

Menurut pandangan Andri, jika The Fed mengambil kebijakan yang tidak terlampau agresif serta arus dana masuk ke ETF kembali positif, peluang rebound bagi Bitcoin dan Ethereum akan semakin lebar.

Di tengah kondisi pasar yang bergerak sangat dinamis, Bitcoin dinilai tetap menjadi aset kripto utama yang sangat menarik untuk dipantau. Hal ini disebabkan Bitcoin mempunyai daya tahan sebagai store-of-value dan ditopang oleh likuiditas institusional yang tergolong kuat.

Sementara itu, Ethereum dinilai layak dicermati lantaran berpotensi mengukir kinerja lebih unggul saat terjadi perpindahan ke aset berisiko. Untuk altcoin berkapitalisasi besar seperti Solana, aset tersebut lebih pas untuk strategi investasi yang berorientasi spekulatif.

Guna menyikapi pergerakan pasar yang sangat fluktuatif, Andri memberikan saran agar para investor tidak bertindak secara terburu-buru dan mengaplikasikan metode akumulasi secara bertahap.

"Strategi investor di tengah volatilitas saat ini adalah tetap disiplin: akumulasi bertahap (DCA) di level support jika terjadi koreksi lebih lanjut, jangan all-in di kondisi ragu, lakukan partial profit-taking pada saat rebound, dan selalu sisakan cash," kata Andri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai gambaran hingga akhir 2026, Andri memprediksikan Bitcoin berada di skenario dasar atau base case pada rentang US$90.000–US$110.000 per BTC.

Apabila terjadi koreksi yang lebih dalam, Bitcoin diperkirakan masih berpotensi merosot ke kisaran US$70.000–US$80.000. Namun pada skenario optimistis, harga Bitcoin berpeluang menembus level US$115.000 per BTC.

Untuk Ethereum, harganya diproyeksikan berada pada rentang US$3.000–US$3.800 per ETH pada skenario dasar.

Sementara itu, pergerakan altcoin berkapitalisasi besar diperkirakan tetap mengekor arah pergerakan Bitcoin, namun dengan tingkat fluktuasi yang lebih tinggi.

Tags

Terkini