4 BUMN Tambang Gencar Investasi, Saham Apa Paling Layak Dibeli?

Jumat, 11 September 2026 | 17:31:31 WIB
Ilustrasi saham BUMN (FOTO : NET)

JAKARTA – Empat emiten pertambangan milik pemerintah gencar melakukan ekspansi pada tahun ini. Lantas, perusahaan tambang badan usaha milik negara (BUMN) manakah yang mempunya prospek investasi paling menjanjikan?

Anggota holding pertambangan MIND ID yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA), terus memacu ekspansi bisnis mereka.

Di tengah besarnya kebutuhan investasi, keempat emiten tambang pelat merah tersebut masih mencuri perhatian investor, terutama berkat prospek harga komoditas dan potensi pembagian dividen.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) dapat menyentuh hingga US$ 1,1 miliar pada 2027. Nominal tersebut bakal menjadi titik puncak kebutuhan investasi perseroan dalam periode ekspansi Indonesia Growth Project (IGP).

IGP meliputi tiga proyek utama, yakni IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan pengembangan Blok Sorowako. Proyek-proyek ini mencakup pembangunan fasilitas pengolahan serta tambang nikel, termasuk smelter berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).

Direktur Vale Indonesia Rizky Andhika Putra menyampaikan bahwa kebutuhan capex INCO pada 2026 diperkirakan menyentuh hampir US$ 700 juta sebagaimana dilansir dari berita sumber. Belanja modal tersebut dialokasikan antara lain untuk pengembangan proyek HPAL, tambang, dan sustaining capex.

Rizky mengungkapkan bahwa kebutuhan investasi akan mencapai resapan puncaknya pada 2027 dengan nominal hingga US$ 1,1 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber. Besarnya capex ini utamanya dipengaruhi oleh investasi pada smelter-smelter baru berbasis HPAL.

Usai menyentuh puncak pada 2027, tingkat kebutuhan capex INCO diperkirakan tetap tinggi pada 2028. Perseroan mengalokasikan sekitar US$ 800 juta, terutama guna menopang pengembangan proyek HPAL di Sorowako.

Di sisi lain, pihak INCO masih memprioritaskan penyelesaian proyek pertumbuhan tersebut. Kebutuhan investasi yang jumbo membuat ruang pembagian dividen mesti mempertimbangkan kebutuhan pendanaan ekspansi.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut menyediakan belanja modal guna memperkuat bisnis nikel dan emas, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Pada lini bisnis emas, Antam membangun fasilitas manufaktur logam mulia di daerah Gresik. Fasilitas ini dirancang guna memacu kapasitas produksi logam mulia serta memenuhi tingginya permintaan pasar domestik.

Pada sektor nikel, Antam menggarap beberapa proyek hilirisasi, seperti smelter berbasis HPAL dan proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan Feni Haltim (FHT), Halmahera Timur.

Proyek RKEF tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$ 1,4 miliar dengan kapasitas memproduksi sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun. Antam memegang 40% kepemilikan dalam proyek tersebut dan membidik waktu operasional pada 2027.

Terkait proyek HPAL, Antam bersama mitranya mengoperasikan fasilitas yang dirancang mampu memproduksi 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) saban tahun. Proyek ini menjadi bagian terintegrasi dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira menuturkan bahwa setiap investasi perseroan senantiasa dievaluasi berpatokan pada arus kas, penciptaan nilai, serta tingkat pengembalian investasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan begitu, ekspansi yang dilancarkan Antam tak sekadar mengejar pertumbuhan skala bisnis semata, namun juga memperhitungkan tingkat return bagi para pemegang saham.

Berbeda halnya dengan INCO dan ANTM yang agresif melebarkan sayap di bisnis nikel, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai menggenjot sumber pertumbuhan dari sektor non-batubara serta produk turunan batubara.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengemukakan bahwa perusahaan memasang target bisnis non-batubara dan produk turunan batubara dapat menyumbang kisaran 20% terhadap total pendapatan dalam rentang tiga sampai empat tahun mendatang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Demi merealisasikan target tersebut, PTBA merancang sejumlah proyek hilirisasi. Beberapa di antaranya meliputi coal to dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), kalium humat, hingga artificial graphite.

PTBA juga mengembangkan unit bisnis energi terbarukan lewat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk memanfaatkan lahan bekas tambang.

Langkah diversifikasi ini diharapkan sanggup menekan ketergantungan terhadap penjualan batubara mentah sekaligus melahirkan sumber pendapatan baru untuk jangka panjang.

Di antara empat saham emiten MIND ID tersebut, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menetapkan ANTM sebagai pilihan utama.

Menurut Elandry, kombinasi porsi Antam pada komoditas emas dan nikel mampu memberikan diversifikasi sumber pertumbuhan yang solid bagi perseroan.

Tingginya harga emas dinilai sanggup menjadi penopang kinerja ANTM. Di waktu bersamaan, bisnis nikel memberi peluang ekspansi manakala keseimbangan permintaan dan pasokan komoditas tersebut mulai membaik.

Di posisi setelah ANTM, Elandry menempatkan TINS sebagai opsi kedua. Prospek harga timah masih menjadi pendorong utama bagi kinerja PT Timah, utamanya didorong oleh permintaan dari industri semikonduktor dan elektronik.

TINS sebelumnya mencatatkan pemulihan volume produksi yang signifikan pada semester I-2026. Angka produksi bijih timah menembus 12.232 ton Sn, alias melonjak sekitar 75% secara tahunan. Prospek harga timah turut ditopang kebutuhan industri kecerdasan buatan (AI) serta semikonduktor.

INCO menempati urutan ketiga. Menurut Elandry, alur cerita investasi Vale Indonesia lebih pas bagi jajaran investor dengan durasi investasi menengah hingga panjang.

Masifnya ekspansi hilirisasi membuka peluang pertumbuhan, namun investor wajib memperhatikan risiko eksekusi proyek serta sensitivitas kinerja terhadap fluktuasi harga nikel.

Sementara itu, saham PTBA menempati posisi paling akhir. Elandry menilai saham PTBA tetap menarik bagi investor yang mengincar arus kas serta dividend yield. Namun, potensi pertumbuhan struktural batubara dinilai lebih terbatas jika dibandingkan komoditas logam.

Elandry merekomendasikan opsi beli atau akumulasi untuk ANTM dengan target harga Rp 4.300-Rp 4.700. Sementara untuk TINS, rekomendasi yang diberikan adalah buy on weakness dengan target Rp 4.700-Rp 5.000.

Saham INCO dinilai potensial untuk diakumulasi dengan target harga Rp 6.200-Rp 7.000. Adapun saham PTBA dinilai layak untuk hold atau buy on weakness bagi investor pencari dividen, dengan target harga Rp 3.200-Rp 3.400.

Rekomendasi tersebut tetap harus dipahami sebagai pandangan subjektif analis, bukan jaminan pasti atas kinerja saham. Investor disarankan tetap memperhitungkan dinamika harga komoditas, realisasi proyek, besarnya kebutuhan belanja modal, valuasi, hingga kebijakan dividen dari tiap-tiap emiten.

Tags

Terkini

Penjualan Rokok Masih Tertekan, Cermati Saham GGRM dan HMSP

Jumat, 11 September 2026 | 19:17:03 WIB

Pencernaan Sehat dan Kuat: Kunci Utama Tubuh Bugar

Jumat, 11 September 2026 | 19:16:22 WIB

Panduan Memenuhi Nutrisi Harian

Jumat, 11 September 2026 | 19:11:01 WIB