Sektor Pasar Modal Indonesia Diproyeksikan JP Morgan Capai Level 7.000

Kamis, 03 September 2026 | 18:44:15 WIB
Ilustrasi jp morgan (FOTO : NET)

JAKARTA – JP Morgan memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal mendarat pada level 7.000 hingga penutupan tahun 2026.

Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan menyampaikan, dorongan optimisme itu berasal dari membaiknya sentimen pasar serta posisi investor lokal maupun asing yang kini berada di level yang terbilang cukup rendah.

"Seperti yang kami tahu asing sudah jualan dan kalau kami lihat fund fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka juga cukup tinggi. Jadi ada banyak amunisi untuk beli di market kami tahun ini," kata Benny di Jakarta, Kamis (3/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai tahun 2027, Benny menilai prospek pertumbuhan laba emiten tetap berada di jalur yang cukup positif. Pertumbuhan laba emiten diperkirakan oleh konsensus analis dapat menyentuh angka sekitar 9 persen di tahun depan.

"Saya rasa untuk ke depannya di tahun 2027 konsensus dari analyst expect earnings itu growth sekitar 9% di tahun depan. Dan ini juga pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah, government spending lagi, dan juga investment," ucap Benny sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Benny mengimbuhkan, ia tetap menyimpan rasa optimis terhadap masa depan pasar modal Indonesia. Ia menilai pertumbuhan pendapatan (top line) serta laba emiten masih berada di level cukup solid, walau beberapa sektor mendapati tekanan margin yang disebabkan oleh kenaikan beban input.

Sebagai data pelengkap, IHSG bertengger di level 6.640,49 atau mencatatkan penguatan 0,68 persen pada sesi perdagangan Kamis (3/9/2026) pukul 14.00 WIB. Sepanjang tahun berjalan, IHSG masih berada dalam tren koreksi yang cukup dalam hingga mencapai 23,2 persen.

Benny turut menyoroti bahwa penurunan drastis IHSG pada tahun ini sebagian besar disulut oleh faktor eksternal alih-alih fundamental dari dalam negeri.

Ia menerangkan, paduan antara merangkaknya harga minyak, tingkat suku bunga yang masih berada di posisi tinggi, serta naiknya yield obligasi di negara-negara maju berhasil mengikis daya pikat pasar modal Indonesia di mata investor dunia.

Tak hanya itu, penetapan yang diambil MSCI pada Februari lalu ikut memantik gelombang modal asing yang keluar (equity outflow) senilai US$ 4 miliar - US$ 5 miliar di sepanjang tahun berjalan.

Rasa cemas investor asing akan ancaman fenomena El Nino juga turut menyumbang sentimen negatif, mengingat rekam jejak dampaknya terhadap produksi pangan di Indonesia serta negara-negara tetangga khususnya komoditas beras, gula, kopi, sampai gandum yang sebagian besarnya masih didatangkan melalui impor dalam jumlah besar oleh Indonesia.

Tags

Terkini