HGII, KEEN, dan TOBA Masuk Penetapan Saham Hijau Perdana BEI

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:29:25 WIB
Ilustrasi saham hijau (FOTO : NET)

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi meluncurkan IDX Green Equity Designation sebagai sistem penetapan saham berbasis hijau. Pada peluncuran tahap awal ini, sebanyak tiga perusahaan tercatat berhasil ditetapkan sebagai penerima penetapan tersebut.

Tiga saham yang dimaksud yaitu PT Hero Global Investment Tbk (HGII), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), serta PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa kehadiran IDX Green Equity Designation menjadi pencapaian penting dalam pengembangan pasar modal tanah air agar semakin kredibel, transparan, dan berfokus pada keberlanjutan.

"Penetapan saham berbasis hijau merupakan milestone penting dalam pengembangan pasar modal Indonesia yang semakin transparan, kredibel, dan berorientasi pada keberlanjutan," ujar Jeffrey dalam seremoni peluncuran IDX Green Equity Designation, Jumat (28/8) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lewat program ini, BEI beserta seluruh Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal Indonesia berupaya memberikan sorotan yang lebih kuat bagi perusahaan tercatat yang memiliki kontribusi terhadap ekonomi hijau dan transisi ke ekonomi rendah karbon.

Di sisi lain, penetapan IDX Green Equity Designation ini diharapkan dapat menjadi panduan yang lebih terpercaya bagi para investor saat menentukan perusahaan yang berkontribusi pada ekonomi hijau.

Jeffrey juga menambahkan bahwa kebutuhan investor terhadap informasi terkait keberlanjutan kini makin berkembang. Investor tidak lagi sekadar melihat komitmen perusahaan, melainkan membutuhkan data yang terukur, transparan, dan kredibel mengenai kontribusi nyata pada ekonomi hijau dan transisi rendah karbon.

Tercatat hingga akhir Juli 2026, sebanyak 83% perusahaan yang melantai di bursa sudah menyampaikan laporan keberlanjutan untuk tahun 2025. Dari total tersebut, sekitar 15% di antaranya telah mendapatkan independent assurance.

Sementara itu, sekitar 62,5% perusahaan yang masuk dalam indeks terkait ESG bawaan BEI telah memiliki target pencapaian net zero.

"Perkembangan ini menunjukkan semakin kuatnya arah keberlanjutan di pasar modal, sekaligus pentingnya mekanisme yang membantu investor mengidentifikasi dan menilai komitmen perusahaan secara konseptual," kata Jeffrey sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pengembangan IDX Green Equity Designation sendiri mengacu pada Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) terbitan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), taksonomi pendukung lainnya, serta acuan internasional seperti Green Equity Principles dari World Federation of Exchanges.

Untuk penerapannya, BEI memberlakukan keputusan direksi yang berlaku efektif sejak tanggal 31 Juli 2026. Kerangka penetapan tersebut ditopang oleh lima pilar utama, yakni Revenue and Investment, Taxonomy, Governance Assessment, dan Disclosure, serta satu unsur tambahan lain dalam proses penilaian.

Seluruh pilar tersebut dirancang guna memastikan bahwa label saham hijau bukan sekadar formalitas, melainkan memiliki indikator terukur lewat keterbukaan informasi, external review, dan assessment berkala.

Status penetapan IDX Green Equity Designation ini juga bakal dievaluasi saban tahun demi memastikan kualifikasinya tetap relevan dengan perkembangan kegiatan operasional perusahaan.

Pada peluncuran perdana ini, BEI menetapkan tiga emiten penerima. Dua perusahaan meraih predikat kategori Green Equity, sedangkan satu emiten berada di kategori Green Equity Transition atau saham hijau transisi.

Sebelumnya, ketiga emiten tersebut telah ikut serta dalam proses piloting IDX Green Equity Designation. Menurut Jeffrey, partisipasi mereka sangat penting untuk menguji agar kerangka kerja tersebut dapat diterapkan secara efektif dalam situasi bisnis nyata.

BEI memiliki harapan agar penetapan saham hijau ini mampu mendongkrak visibilitas emiten sekaligus membuka keran akses pendanaan yang lebih luas. Bagi para investor, penetapan ini diharapkan dapat menjadi acuan tepercaya dalam menilai perusahaan dari aspek keberlanjutan.

Dalam skala jangka panjang, langkah ini diyakini mampu membuka ruang pengembangan indeks baru serta produk investasi berbasis keberlanjutan. "Green Equity Designation adalah awal, bukan akhir," ujar Jeffrey sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia berharap program ini dapat mendorong perbaikan berkelanjutan serta memicu partisipasi perusahaan tercatat lainnya. Keberlanjutan pada akhirnya mesti menciptakan nilai tambah dengan cara memperkuat daya saing emiten, memperluas cakupan investor, dan membuka peluang pendanaan jangka panjang.

BEI pun turut mengundang lebih banyak perusahaan tercatat untuk ikut berpartisipasi dalam skema program IDX Green Equity Designation tersebut.

Tags

Terkini