Rencana Pelepasan Saham Mayoritas BYAN dan Implikasi Investor Ritel

Kamis, 27 Agustus 2026 | 19:40:59 WIB
Ilustrasi Saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Rumor Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam akan mengambil alih saham mayoritas PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi perhatian pasar. Di balik rumor tersebut, orang terkaya Indonesia sekaligus pengendali utama saham BYAN, Low Tuck Kwong juga tengah menjajaki pelepasan saham perusahaan tambang batubara tersebut.

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Rabu (26/8/2026), Low Tuck Kwong dikabarkan tengah menjajaki penjualan saham mayoritas Bayan kepada sebuah konsorsium yang dikaitkan dengan Haji Isam. Pembicaraan tersebut masih berlangsung dan belum ada kepastian transaksi akan terealisasi.

Low Tuck Kwong saat ini menguasai sekitar 40 persen saham BYAN, sedangkan sekitar 22 persen saham lainnya dimiliki putrinya. Selain konsorsium tersebut, terdapat pihak lain yang disebut turut menyatakan ketertarikan.

Harga transaksi juga dikabarkan berpotensi menggunakan diskon terhadap harga pasar. Salah satu pertimbangannya adalah terbatasnya saham BYAN yang tersedia untuk publik atau free float.

Manajemen Bayan sebelumnya menyatakan belum mengetahui adanya rencana akuisisi tersebut. Meski demikian, perseroan menyebut pemegang saham pengendali dapat mempertimbangkan berbagai peluang investasi untuk memaksimalkan nilai investasinya di Bayan.

"Namun pemegang saham pengendali BYAN telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rumor akuisisi tersebut turut membuat sejumlah saham yang dikaitkan dengan jaringan bisnis Haji Isam menjadi perhatian investor. Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, respons pasar tidak hanya terlihat pada saham BYAN, tetapi juga sejumlah emiten yang dikaitkan dengan ekosistem bisnis Haji Isam.

Pergerakan saham-saham tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi ekspansi bisnis, meskipun setiap emiten memiliki fundamental dan katalis yang berbeda.

Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), harga saham BYAN naik 225 poin atau 1,49 persen secara harian ke Rp 15.325. Selama sebulan terakhir, harga saham BYAN terakumulasi meningkat 26,92 persen atau bertambah 3.250 poin, tetapi sejak awal tahun 2026 harganya masih melemah 6,75 persen.

Hendra menilai pergerakan tersebut menunjukkan rumor akuisisi masih menjadi perhatian pasar. Namun, sentimen tersebut belum membuat seluruh saham yang dikaitkan dengan jaringan bisnis Haji Isam bergerak dalam arah yang sama.

Jika transaksi benar-benar terealisasi, dampaknya dinilai tidak sekadar mengubah struktur kepemilikan BYAN. Hendra melihat akuisisi berpotensi memperluas jaringan bisnis Haji Isam melalui kepemilikan aset pertambangan batubara dalam skala besar.

Jaringan bisnis Haji Isam sendiri telah mencakup sejumlah sektor, antara lain pertambangan, perkebunan, biodiesel, dan logistik. Dengan tambahan aset BYAN, peluang integrasi maupun sinergi antarbisnis berpotensi semakin terbuka.

Namun, investor tetap perlu mencermati struktur pendanaan apabila transaksi tersebut benar-benar dilakukan. Nilai akuisisi yang dirumorkan mencapai sekitar US$5,5 miliar, sehingga sumber pendanaan menjadi salah satu faktor penting dalam menilai dampak transaksi terhadap kondisi keuangan perusahaan.

"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana transaksi tersebut dibiayai, apakah menggunakan kas, utang, penerbitan saham baru atau kombinasi beberapa sumber pendanaan. Jika terlalu banyak menggunakan utang, leverage perusahaan bisa meningkat," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi fundamental, Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf RB Setiadi menilai BYAN memiliki sejumlah keunggulan struktural. Keunggulan tersebut antara lain skala produksi yang besar, integrasi logistik, serta struktur biaya yang relatif rendah.

Dalam risetnya, Adolf menyebut cash cost BYAN pada 2025 mencapai sekitar US$32,5 per ton, lebih rendah dibandingkan panduan perusahaan sebesar US$39,1 per ton.

Sepanjang 2025, BYAN mencatat produksi sekitar 68 juta ton dan penjualan mencapai 70,8 juta ton. Perseroan juga membukukan laba bersih sekitar US$784 juta di tengah pelemahan harga batubara secara umum.

Posisi kompetitif BYAN turut ditopang jaringan pit-to-port yang terintegrasi. Infrastruktur tersebut mencakup jalan angkut internal, fasilitas pemuatan tongkang, tiga Kalimantan Floating Transfer (KFT), hingga Balikpapan Coal Terminal.

Adolf menilai membaiknya harga batubara, potensi pengetatan pasokan dari Indonesia, serta permintaan dari pasar Asia dapat menjadi katalis tambahan bagi produsen dengan struktur biaya rendah seperti BYAN.

Dengan demikian, investor perlu memisahkan antara sentimen rumor akuisisi dan kinerja fundamental BYAN. Kepastian mengenai struktur transaksi, sumber pendanaan, harga akuisisi, serta persetujuan yang diperlukan akan menjadi faktor penting sebelum dampak akuisisi dapat dihitung secara lebih konkret.

Tags

Terkini