Tips Manajer Investasi Cetak Return Reksadana Saham di Atas IHSG

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:30:18 WIB
Ilustrasi reksadana saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Kinerja sejumlah produk reksadana saham mampu melampaui laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juli 2026. Capaian ini menandakan peluang manajer investasi membukukan kinerja positif di tengah dinamika pasar masih terbuka lebar.

Infovesta mencatat terdapat 91 produk reksadana saham yang mencetak return melebihi pertumbuhan bulanan IHSG pada Juli 2026. Pada periode yang sama, IHSG tercatat menguat 10,51 persen secara bulanan.

Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A menjadi salah satu produk dengan raihan kinerja tinggi usai mencetak return bulanan 14,06 persen per Juli 2026. Produk racikan Henan Putihrai Asset Management (HPAM) ini dikelola secara aktif gabungan analisis fundamental serta disiplin manajemen risiko.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution HPAM, Reza Fahmi Riawan menyampaikan pihaknya tetap berfokus memilih saham berfundamental kuat, bervaluasi menarik, dan berprospek cerah di tengah dinamika pasar. Di samping itu, portofolio dikelola secara fleksibel guna menyesuaikan perubahan kondisi pasar.

"Dengan pendekatan tersebut, HPAM berupaya mengoptimalkan potensi imbal hasil sekaligus menjaga kualitas portofolio dalam jangka panjang," ujar Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reza menerangkan Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A menempatkan investasi pada beragam sektor berprospek baik dan berfundamental kuat secara selektif. Pemilihan tersebut didasari analisis makroekonomi, prospek industri, valuasi, hingga potensi pertumbuhan emiten agar portofolio tetap terdiversifikasi.

Mengenai target return, Reza menegaskan HPAM tidak menetapkan atau menjanjikan angka tertentu lantaran kinerja reksadana sangat bergantung pada dinamika pasar.

“Fokus kami adalah mengelola portofolio secara disiplin agar mampu menghasilkan kinerja yang optimal dalam jangka panjang melalui pemilihan saham-saham berkualitas dan pengelolaan risiko yang terukur,” terang Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

HPAM menilai prospek pasar saham Indonesia tetap positif jika disokong stabilitas makroekonomi, kebijakan moneter yang kondusif, dan aliran dana masuk. Strategi yang diterapkan yakni tetap selektif menentukan emiten berkualitas dengan potensi pertumbuhan laba berkelanjutan.

"Dengan pendekatan tersebut, kami berharap dapat menciptakan nilai tambah (alpha) bagi investor dalam jangka panjang, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar,” imbuh Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan Fund Fact Sheet per 31 Juli 2026, alokasi saham produk ini meliputi sektor basic materials 28,1 persen, financial 25,4 persen, industrial 14,7 persen, banking (time deposit) 11,6 persen, serta sektor lainnya 18,6 persen.

Produk lain yang membukukan kinerja tinggi adalah SAM Dana Saham Nusantara Kelas S milik Samuel Aset Manajemen dengan return bulanan 25,38 persen per Juli 2026.

Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen, Hernandi Wisnu Wardhana menyebut tekanan jual asing yang dalam membuat eksposur investor global relatif rendah. Kondisi basis yang rendah tersebut menjadikan setiap perbaikan sentimen berpotensi memberi dampak signifikan pada indeks.

“Setelah koreksi pasar pada semester pertama tahun ini, valuasi pasar saham telah berada pada level yang secara historis terbilang atraktif,” ujar Hernandi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hernandi menjelaskan strategi pengelolaan produk SDN Kelas S mengombinasikan dua hal utama. Pertama, pendekatan semi-equal weighting untuk membatasi ketergantungan pada segelintir saham dan membuka peluang kontribusi saham likuid di luar big caps.

Kedua, pemilihan saham bernilai sensitivitas tinggi terhadap siklus pasar guna memberi potensi upside lebih besar saat pasar naik. Langkah ini dijalankan bersama disiplin ketat berupa batasan bobot, review berkala, serta manajemen risiko.

“Bagi kami, disiplin pada sisi eksekusi sama pentingnya dengan pemilihan sahamnya sendiri,” tutur Hernandi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini portofolio didominasi sektor Basic Materials dan Energy, sementara sisanya tersebar pada sektor lain demi menjaga diversifikasi. Kedua sektor tersebut menyumbang porsi transaksi harian bursa yang signifikan sehingga likuiditasnya sangat menunjang produk reksadana.

Dari sisi fundamental, harga komoditas logam masih tinggi dan pelemahan rupiah turut mendukung pendapatan emiten ekspor berdenominasi dolar AS. Alokasi sektoral ini dijalankan secara dinamis mengikuti perkembangan siklus komoditas serta valuasi.

“Alokasi sektoral ini bersifat dinamis, kami menyesuaikannya mengikuti perkembangan siklus komoditas dan valuasi, sehingga posisi hari ini tidak otomatis menjadi posisi kami hingga akhir tahun,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkait proyeksi IHSG di akhir tahun, Samuel Aset Manajemen mengasumsikan level 7000 – 7300 dengan potensi kenaikan sekitar 9 persen - 14 persen dari posisi saat ini.

“Dengan beta portofolio SDN Kelas S sebesar 1,4-1,5 kali, maka SDN Kelas S berpotensi berkinerja lebih baik dari indeks acuan (IHSG) apabila pasar pulih sesuai dengan asumsi dan scenario. Terakhir sebagai catatan, kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan atas kinerja di masa mendatang,” pungkas Hernandi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini

5 Makanan Tinggi Protein Untuk Membantu Otot

Kamis, 03 September 2026 | 23:25:00 WIB

Ragam Manfaat Salmon Bagi Kesehatan Tubuh

Kamis, 03 September 2026 | 23:17:24 WIB

Pilihan Daging Kaya Protein untuk Tubuh Sehat

Kamis, 03 September 2026 | 23:09:01 WIB