Data Tenaga Kerja Amerika Lemah, Harga Emas Dunia Meroket Dua Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 14:41:58 WIB
Ilustrasi: Harga emas dunia melonjak 2,3 persen setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih rendah dari perkiraan. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai jual emas dunia meroket hingga lebih dari 2 persen pada sesi perdagangan Kamis (2/7/2026). Lonjakan ini terjadi menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih rendah dari prediksi, sehingga mempertebal perkiraan bahwa The Fed bakal bersikap kian waspada dalam menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Harga emas di pasar spot menyudahi perdagangan dengan lonjakan mencapai 2,3 persen ke posisi US$ 4.123,96 per ons troi. Di waktu yang sama, kontrak emas berjangka AS ditutup melesat hingga 1,3 persen menuju level US$ 4.135,65 per ons troi.

Apresiasi nilai emas ini juga disokong oleh menyusutnya indeks dolar AS sebesar 0,5 persen, suatu kondisi yang menjadikan komoditas logam mulia ini terasa lebih terjangkau bagi para pemilik mata uang asing lainnya. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, memaparkan bahwa laporan ketenagakerjaan yang melempem tersebut memperkecil peluang bagi The Fed untuk mengerek suku bunga lebih lanjut.

"Angka ketenagakerjaan yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan semakin kecil kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Seperti yang kami ketahui, emas cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah. Karena itu, kami melihat reli yang cukup signifikan di pasar emas setelah data tersebut dirilis," kata Meger sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan bahwa aktivitas ekonomi di Negeri Paman Sam cuma mampu menyediakan 57.000 lapangan kerja sepanjang Juni, angka yang merosot jauh di bawah estimasi para analis yang memproyeksikan tambahan sebanyak 110.000 lapangan kerja. Di sisi lain, tingkat pengangguran domestik bertengger di angka 4,2 persen.

Temuan tersebut semakin mempertegas indikasi perlambatan di sektor ketenagakerjaan, setelah sehari sebelumnya publikasi laporan payroll sektor swasta AS pun memperlihatkan pertumbuhan yang berada di bawah ekspektasi. Menanggapi perkembangan data tersebut, para pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi mereka terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed.

Mengacu pada CME FedWatch Tool, probabilitas adanya kenaikan suku bunga pada September mendatang melorot ke kisaran 51 persen, dari yang sebelumnya menyentuh 66 persen sebelum data ketenagakerjaan dipublikasikan. Sementara itu, Gubernur The Fed Kevin Warsh pada Rabu (1/7/2026) menyampaikan bahwa estimasi serta risiko inflasi telah mereda dalam kurun beberapa minggu belakangan.

Walau demikian, Kevin Warsh menegaskan tetap memegang komitmen penuh untuk mengembalikan laju inflasi ke target sasaran sebesar 2 persen. Beralih ke sektor permintaan, World Gold Council (WGC) memaparkan bahwa jajaran bank sentral kembali memacu aktivitas akumulasi emas pada Mei lalu, dengan penambahan bersih sebanyak 41 ton.

Dari panggung geopolitik, diskusi tidak langsung yang melibatkan pihak AS dan Iran di Qatar berakhir tanpa membuahkan perkembangan berarti ke arah kesepakatan damai. Situasi penuh ketidakpastian ini pada gilirannya ikut merawat ketertarikan para investor untuk berlindung pada aset aman (safe haven) seperti komoditas emas.

Ternyata tidak cuma emas saja yang berkilau, logam mulia tipe lainnya pun terpantau membukukan penguatan harga. Nilai perak di pasar spot meledak hingga 3,14 persen menuju level US$ 60,97 per ons, platinum terkerek naik 2,79 persen ke posisi US$ 1.624 per ons, dan paladium melonjak sejauh 3,89 persen menjadi US$ 1.263,85 per ons.

Terkini