Simak Valuasi Saham IPO JECX dan JELI Sebelum Penawaran Berakhir

Kamis, 02 Juli 2026 | 11:21:03 WIB
Ilustrasi: Penawaran umum saham IPO JECX dan JELI akan berakhir pada Jumat, 3 Juli 2026. (Gambar: NET)

JAKARTA – Penawaran umum atas dua perusahaan yang menerbitkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan ditutup besok, Jumat (3/7/2026). Perusahaan tersebut adalah PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI).

JECX, pengelola jaringan rumah sakit mata JEC Eye Hospitals & Clinics, menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham di harga Rp 1.250. Saham tersebut setara dengan 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor pasca-IPO.

Dalam aksi korporasi ini, JECX juga menawarkan 162,88 juta saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, Sp.M(K) yang mewakili 2 persen dari modal ditempatkan dan disetor pascapenawaran umum. Dana dari IPO yang berpotensi dikantongi JECX mencapai Rp 609,97 miliar, yang terdiri dari Rp 406,65 miliar saham baru dan Rp 203,32 miliar saham divestasi.

JECX juga mengadakan program alokasi saham karyawan dengan mengalokasikan saham sebesar 2,29 persen dari jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO atau setara dengan 11,16 juta saham. Sementara itu, JELI menetapkan harga IPO sebesar Rp 900 per saham.

Dengan menawarkan 2,66 juta saham baru, perusahaan makanan dan minuman penutup dengan merek INACO ini berpotensi meraup dana segar Rp 239 miliar. Berdasarkan prospektus, Price to Earnings Ratio (PER) JECX sebesar 49,52 kali dan Price to Book Value (PBV) sebesar 4,51 kali.

Tim Riset Ekuitas Ajaib Sekuritas Asia menghitung P/E JELI mencapai 23,06 kali dengan PBV sebesar 6,18 kali. Valuasi JELI dan JECX dinilai cukup premium sehingga membutuhkan pembuktian pertumbuhan kinerja agar dapat menopang kenaikan harga saham ke depan.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, mengatakan kedua calon emiten tersebut menawarkan profil investasi yang berbeda. "Investor JELI membayar premi terhadap efisiensi, sedangkan JECX mengharuskan investor membayar harga yang sangat mahal untuk perusahaan yang masih berada dalam proses memulihkan profitabilitasnya," kata Hendra sebagaimana dilansir dari sumber berita, Rabu (1/7/2026).

Hendra menambahkan, JELI memiliki kekuatan pada merek INACO dan jaringan distribusi yang luas. Namun, pertumbuhan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir masih melambat sehingga kenaikan laba lebih banyak ditopang oleh efisiensi biaya.

JECX bergerak di sektor rumah sakit yang defensif, namun valuasi sahamnya dinilai sudah cukup premium dengan tingkat pengembalian modal dan pemulihan profitabilitas yang belum sebanding. "Harga murah belum tentu benar-benar murah apabila fundamentalnya rapuh. Sebaliknya, harga yang terlihat mahal belum tentu mahal apabila perusahaan mampu menciptakan pertumbuhan laba yang konsisten," ucap Hendra sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini