Likuiditas Ketat, Sejumlah Perbankan Pilih Terbitkan Obligasi

Kamis, 02 Juli 2026 | 11:21:03 WIB
Ilustrasi: Sejumlah bank terbitkan obligasi untuk mengantisipasi ketatnya likuiditas pasar. (Gambar: NET)

JAKARTA – Sejumlah perbankan mulai bersiap menghadapi ketatnya persaingan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di tengah kondisi likuiditas pasar yang kering. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terdapat enam bank yang menerbitkan surat utang atau obligasi sepanjang tahun ini.

Beberapa bank yang telah menerbitkan obligasi antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank BJB, Bank Mandiri Taspen, serta Panin Bank. Sementara itu, Maybank Indonesia dan Bank Victoria sedang bersiap menerbitkan obligasi pada Juli 2026.

Staf Riset Ekonomi Makro BTN, Myrdal Gunarto, mengatakan maraknya penerbitan obligasi dipicu oleh kompetisi DPK yang kian ketat akibat pertumbuhan kredit yang lebih masif dibandingkan dengan pertumbuhan DPK. "Rasio likuiditas perbankan semakin ketat. Ketika likuiditas di pasar mulai mengering, bank harus beralih ke wholesale funding, salah satunya melalui penerbitan obligasi, agar terhindar dari perang suku bunga simpanan yang berlebihan di tingkat ritel," jelas Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Myrdal menambahkan, pengamanan pendanaan jangka panjang lewat obligasi berfungsi memperbaiki kesehatan neraca dan menghindari mismatch antara kredit bertenor panjang dan DPK bertenor pendek. Obligasi juga memberikan ruang bagi perbankan untuk mengamankan margin karena kupon obligasi lebih rasional dibandingkan dengan skema special rate pada deposito.

Selain itu, deposito menanggung beban Giro Wajib Minimum (GWM) yang menggerus imbal hasil, sementara obligasi tidak memiliki risiko penarikan dana sewaktu-waktu. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa penerbitan obligasi bertujuan melengkapi pendanaan bank agar komposisi funding mix lebih stabil.

“Penerbitan obligasi agar funding mix bank jadi bagus dan lebih stabil. Sifatnya melengkapi,” ujar Hery sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menegaskan bahwa penerbitan obligasi merupakan strategi pendanaan jangka menengah dan panjang untuk menjaga diversifikasi struktur pendanaan. Ia menyatakan bahwa DPK tetap menjadi sumber pendanaan utama, sementara obligasi berfungsi mendukung pertumbuhan aset produktif dan ekspansi bisnis berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, turut menjelaskan bahwa penerbitan obligasi dilakukan sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB). Perusahaan mengantongi total dana Rp 1,5 triliun dari realisasi emisi obligasi untuk mendukung ekspansi bisnis.

“Utamanya penyaluran kredit kepada nasabah pensiunan secara berkesinambungan,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini